Kapan Ritel Bisa Ngegas Lagi? Ini Kata Pengusaha

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 18:48 WIB
Close-up view of hands in rubber gloves pushing shopping carts in front of supermarket.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Kerkez
Jakarta -

Para pelaku ritel enggan terburu-buru menyimpulkan bahwa peningkatan penjualan di bulan Oktober ini sebagai awal pemulihan omzet mereka. Meskipun mereka mengakui, Oktober ini telah terjadi peningkatan penjualan 20% dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey titik balik pemulihan sektor ritel adalah saat vaksin mulai disebarkan ke masyarakat. Tanpa adanya vaksin, masih ada kemungkinan munculnya gelombang berikutnya wabah COVID-19.

"Bisa benar-benar mulai pulih itu adalah titik balik setelah vaksin disebarkan kepada masyarakat jadi itu baru akan cenderung normal, cenderung menuju next normal. Jadi ketika vaksin belum ya memang kita masih dalam kondisi yang waswas atau siaga," ujar Roy pada detikcom, Jumat (30/10/2020).

Meski ada vaksin, sektor ritel baru benar-benar pulih 3-6 bulan setelah penyebaran vaksin tersebut.

"Kalau vaksin sudah, maka setelah vaksin disebarkan pada masyarakat, dibutuhkan sekitar 1 sampai 2 kuartal ke depan diharapkan sudah pulih. Jadi tidak serta merta vaksin diedarkan kemudian kita pulih, nggak juga, tapi masih ada 1 sampai 2 kuartal. Kalau 1 kuartal kan 3 bulan, jadi 3-6 bulan periode untuk mengembalikan perdagangan di sektor hilir, sektor ritel," terangnya.

Hal serupa disampaikan Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta.

"Nggak bisa (pulihkan kerugian). Ini hanya untuk bertahan bagaimanapun," ujar Tutum.

Meski begitu, peningkatan penjualan selama bulan Oktober terutama di masa cuti bersama ini sebagai sinyal positif dan diyakini bisa jadi pendorong peningkatan penjualan ritel di bulan-bulan selanjutnya.

"Pasti, minimal menggerakkan mesin yang sudah lama terhentilah. Bagaimanapun perlu pemanasan pemulihan ini itu," tambahnya.

(ara/ara)