Bisnis Ikan Cupang Menjanjikan, Langgeng Nggak Ya?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 02 Nov 2020 07:15 WIB
Pengunjung mengamati ikan cupang yang dipajang di Bazar ikan Cupang di Kawasan Pasar Gembrong Baru, Jakarta, Jumat (30/10). Bazar ikan cupang ini digelar mulai hari ini hingga 30 November 2020.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy

Pakar pemasaran Yuswohady menilai, hebohnya ikan cupang sendiri tak lepas dari pandemi Corona yang memaksa orang banyak menghabiskan waktu di rumah. Menurutnya, kondisi itu membuat orang bosan bahkan hingga stres.

"Ini kan menjadi heboh karena stay at home, karena pandemi orang itu memang nggak cuma ikan hias jadi di seluruh dunia surveinya pet, binatang piaraan selama pandemi meningkat, penjualan pet meningkat, binatang piaraan meningkat, karena di masa pandemi itu orang pertama boring, terus stres, bahkan ada yang depresi," paparnya kepada detikcom.

Menurutnya, ikan cupang semakin populer karena keberadaan influencer hingga para artis yang turut memelihara, sehingga tercipta hubungan saling menguntungkan antara influencer dengan produsen atau pebisnis.

Dari sisi influencer, mereka diuntungkan dengan semakin banyaknya pengikut atau followers. Di sisi lain, pebisnis ikan cupang juga diuntungkan karena semakin banyaknya peminat.

"Jadi saling menguntungkan si artis tambah terkenal dengan memelihara ikan cupang, di satu sisi memelihara itu follower-nya, nonton IG-nya, semua yang lain ikut-ikutan jadi sesuatu yang masif," jelasnya.

Namun begitu, dia menilai, hebohnya ikan cupang tidak bertahan lama alias musiman. Tidak tahan lama di sini artinya jangka pendek, bisa 6 bulan, setahun ataupun dua tahun. Setelah heboh, maka tren ikan cupang akan kembali sedia kala.

Dia menjelaskan, sifat natural tren yang cepat 'meledak' maka akan cepat surut. Sebab, begitu tren meledak maka informasi mengenai sesuatu juga banyak sehingga rasa penasaran orang akan terpenuhi.

"Semakin medianya semakin masif, makin besar itu proses hebohnya, makin sebentar, malah nggak ada sosmed nggak heboh banget, tapi lama. Karena begitu orang tahu, rasa tahunya terpenuhi, nggak pensaran kemudian terjadi biasa," ungkapnya.

Namun, ia menilai, di tengah ramainya tren cupang ini menjadi peluang untuk bisnis. Dengan catatan, kemudian masuk ke bisnis lain yang heboh.

"Right in the way justru pada masa-masa kaya begini jadi bisnis, nggak sustain tapi bagus untuk survival di masa pandemi. Jadi sekarang banyak temen-temen kena lay off salah satu menjadi alternatif bagus adalah bisnis di bidang-bidang yang heboh di masa pandemi," ujarnya.

Halaman

(acd/ara)