Investasi Minus, Jokowi Langsung Colek Luhut

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 03 Nov 2020 08:00 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) dan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan (kanan) meninggalkan Kantor Presiden usai rapat terbatas tentang ketersediaan anggaran dan pagu indikatif tahun 2020 di Jakarta, Senin (22/4/2019). Pemerintah akan mengupayakan penganggaran dan alokasi APBN 2020 memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww.
Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan data pertumbuhan investasi di kuartal III-2020 minus lebih dari 5%. Jokowi pun kembali menyinggung Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan terkait torehan itu.

Jokowi sendiri sebelumnya sudah memperingatkan Luhut bahwa kontraksi pertumbuhan investasi di kuartal III-2020 jangan lebih dari -5%. Namun menurut bocoran yang didapat Jokowi pertumbuhan investasi kuartal III-2020 bisa mencapai -6%

"Investasi kita juga di kuartal III-2020 masihh minusnya di atas 5%, tapi nanti kita tunggu hitung-hitungan dari BPS. Kurang lebih nanti -6%. Saya sudah mewanti-mewanti kepada kepala BKPM dan Menko Marinves agar paling tidak di kuartal III-2020 ini bisa minus di bawah 5% tapi ternyata belum bisa," tuturnya saat membuka Sidang Kabinet Paripurna dilansir dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/11/2020).

Meski Luhut tak bisa memuaskan keinginannya, Jokowi berharap Luhut dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bisa mendorong pertumbuhan investasi secara maksimal di kuartal IV-2020 dan kuartal I-2021.

Jokowi juga meminta Luhut dan Bahlil agar memanfaatkan sebaik mungkin terkait keputusan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memperpanjang fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) untuk Indonesia. Dia yakin fasilitas GSP bisa dimanfaatkan untuk mendorong masuknya investasi.

Sebelumnya diberitakan, Jokowi memberikan pekerjaan rumah khusus untuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. PR itu adalah menjaga pertumbuhan investasi yang sudah turun terlalu dalam.'