Burger King Minta Pelanggan Beli McDonald's Cs, Strategi Marketing?

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2020 10:08 WIB
Restoran cepat saji asal amerika burger king. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Burger King/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Warganet baru-baru ini dibuat heboh oleh unggahan Burger King di akun Instagram resminya yang meminta pelanggan membeli produk pesaingnya seperti McDonald's, KFC, hingga warteg. Baru satu hari diunggah, postingan tersebut sudah disukai 290 ribu akun dan 11 ribu komentar.

Menurut pemerhati marketing Yuswohady, aksi Burger King itu disebut dengan istilah empathic marketing. Burger King disebut mampu membaca peluang di masa-masa pandemi seperti sekarang ini.

Di saat-saat pandemi seperti ini, kata Yuswohady, memang sedang meningkat yang namanya emphatic society, di mana orang-orang cenderung ingin menolong satu sama lain untuk bertahan hidup. Nah, hal inilah yang kemudian diadopsi Burger King sebagai bagian dari strategi marketingnya.

"Burger king meng-adopt yang namanya pendekatan society empathic, dengan melakukan emphatic marketing, jadi dia bungkusnya bukan jualan tapi bungkusnya adalah empati," ujar Yuswohady kepada detikcom, Kamis (5/11/2020).

Tujuan utamanya tentu untuk menarik orang-orang membeli makanan cepat saji di masa pandemi seperti ini. Lantaran, selama pandemi, keinginan masyarakat membeli makanan di luar turun drastis.

Namun, Burger King tak mau terkesan egois memasang iklan yang hanya mempromosikan dagangannya sendiri. Untuk itu, ia juga mencantumkan nama-nama dagang dan produk pesaingnya. Sebab perhatian yang ingin ditarik Burger King dari pelanggan adalah soal nasib para karyawan yang bekerja di restoran cepat saji.

Burger King Minta Pelanggan Beli Makanan di McDonald's dan WartegFoto: Instagram @burgerking.id

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Kini, mereka kian terancam, tanpa adanya gerakan masif dari para pelanggan, mungkin satu per satu bakal tumbang.

"Pesannya adalah ini resto berat semua dan resto itu labor intensive (padat karya), artinya satu resto kecil aja mungkin pelayannya bisa 30 orang. Jadi begitu penjualan nggak ada kan otomatis kan para pelayan di-lay-off-kan, nah empatinya di situ. Jadi dia bilang bahwa ini resto pada berat maka untuk bisa survive ya mohon customer beli, kan kira-kira gitu," paparnya.

Hal serupa disampaikan oleh pakar marketing Hermawan Kartajaya. Namun, sedikit berbeda dari Yuswohady, menurut Hermawan, bukan empati yang sedang ditonjolkan oleh Burger King melainkan ada hal lain.

"Itu smart advertising jadi dia bilang seolah-olah dia laris, tapi kompetitornya itu lagi setengah mati jadi tolonglah beli dari kompetitor," kata Hermawan.

Apalagi di paragraf terakhir unggahan Burger King tersebut ada kata-kata yang menyebut produknya adalah produk terbaik. Kesannya di sini, kata Hermawan, Burger King tetap sedikit menonjolkan produknya, namun kemudian menutup kalimat itu dengan menganjurkan pelanggan membeli juga produk dari kompetitor.

"Seolah-olah ada unsur membantu pekerja (resto makanan cepat saji) tapi ya itu agak sombong," sambungnya.

(ara/ara)