H&M hingga Nike Bantah Lakukan Kerja Paksa ke Muslim Uighur

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 06 Nov 2020 09:48 WIB
Perusahaan Apple dan Nike mendapat tekanan supaya memutus bisnis yang melibatkan perbudakan etnis Muslim Uighur di China
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Merek fesyen ternama dunia seperti Boohoo, H&M, dan Nike dituduh melakukan kerja paksa kepada Muslim Uighur di Xinjiang, China. Tuduhan itu berdasarkan data laporan yang didapat oleh Business, Energy and Industry Strategy (Beis). Namun, semua merek fesyen itu membantah tuduhan tersebut.

Direktur Boohoo, Andrew Reaney mengatakan bahwa dia terkejut dengan laporan tersebut. Reaney mengonfirmasi bahwa semua pemasoknya tidak memiliki hubungan pekerjaan bahkan mengambil bahan di wilayah Xinjiang, Muslim Uighur China.

"Itu sudah selesai dan semua pemasok kami mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki hubungan manufaktur atau kain ke wilayah itu," jelas Reaney, dikutip dari BBC, Jumat (6/11/2020).

Reaney mengatakan bahwa pengecer online juga tidak mengambil bahan apapun dari wilayah tersebut. Hal itu disampaikan sebab Beis mempertanyakan proses audit di bisnis tersebut dan bagaimana tingkat permintaan di Inggris yang mempengaruhi kinerja karyawan.

Merek The North Face juga mendapatkan tuduhan tersebut. Kini perusahaan sedang berbicara dengan Beis yang juga melakukan penyelidikan.

Buntut masalah dari tersebut berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Institut Kebijakan Strategis Australia pada Februari lalu. Laporan itu menerbitkan bahwa orang Uighur di Xinjiang, China dipaksa bekerja di berbagai pabrik yakni di 83 merek global terkenal, termasuk H&M, Nike, Apple dan Dell.

Mendengar tuduhan itu kepala rantai pasokan di H&M David Savman, mengatakan mereka tidak lagi menggunakan bahan dari wilayah tersebut. Beis pun menegaskan saat laporan itu muncul, mereka langsung melakukan investigasi di semua pabrik. Dalam penyelidikan Beis mengatakan tidak menemukan pelanggaran di semua pabrik yang dituduh. Sebab dari Beis sendiri mengklaim bahwa China memiliki panduan yang jelas mengenai proses dan etika bekerja.

Kemudian dalam sesi komite , Wakil Presiden Manufaktur Nike Jaycee Pribulsky, mengatakan grup AS sangat prihatin mengenai situasi di kawasan China. Dia pun mengonfirmasi kepada Beis bahwa Nike tidak mengambil dan memproduksi bahan mentan apapun dari wilayah Xinjiang.

(eds/eds)