RI Resesi, Demokrat Sarankan Ambil Kebijakan Pemulihan Jangka Panjang

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Sabtu, 07 Nov 2020 17:29 WIB
Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Demokrat Syarief Hasan meminta Pemerintah untuk lebih fokus dalam mengambil langkah perbaikan ekonomi Indonesia. Pasalnya, berdasarkan data BPS, Indonesia resmi masuk ke dalam jurang resesi setelah pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 berada di angka minus 3,49%.

Syarief Hasan menyebutkan kondisi resesi ini merupakan kali pertama terjadi sejak reformasi Indonesia pada 1998/1999 silam.

"Masuknya Indonesia ke dalam jurang resesi menunjukkan kurang efektifnya berbagai langkah pemulihan ekonomi yang dilakukan Pemerintah di masa pandemi COVID-19," ungkap Syarief dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2020).

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini pun menuturkan kondisi ini sangat berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, sektor-sektor yang paling anjlok pertumbuhannya adalah sektor yang banyak berhubungan dengan investasi, seperti industri alat angkutan (-29,98%), industri mesin dan perlengkapan (-10,76%), industri karet dan plastik (-9,61%), industri tekstil (-9,32%), industri batu bara dan migas (-7,17%), hingga industri barang logam (-6,86%).

Ia menilai anjloknya industri padat modal ini dapat berimbas pada iklim investasi di Indonesia. "Resesi ini akan membuat investor berpikir kembali untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sebab, industri yang menjadi tujuan investasi mengalami kontraksi pertumbuhan," jelasnya.

Sebelumnya, Syarief Hasan mengingatkan kepada pemerintah terkait potensi terjadinya resesi di masa pandemi. Menurutnya, untuk menguatkan kembali ekonomi maka kebijakan ekonomi yang diambil tidak boleh kebijakan jangka pendek.

"Hanya kebijakan jangka panjang yang dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia. Terbukti, lewat kebijakan jangka panjang MP3EI (Master Plan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia), pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah tercatat rata-rata 6% selama 10 tahun meski dalam tekanan ekonomi global pada tahun 2008," pungkasnya.

(mul/ega)