Dampak Seruan Boikot Produk Prancis ke Ekonomi RI

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2020 21:43 WIB
A notice calling for a boycott French products is displayed at a supermarket in Sanaa, Yemen, Monday, Oct. 26, 2020. Muslims in the Middle East and beyond on Monday called for boycotts of French products and for protests over caricatures of the Prophet Muhammad they deem insulting and blasphemous, but Frances president has vowed his country will not back down from its secular ideals and defense of free speech. (AP Photo/Hani Mohammed)
Foto: AP/Hani Mohammed
Jakarta -

Seruan boikot produk Prancis masih terus berlangsung di Indonesia. Padahal ada begitu banyak perusahaan afiliasi Prancis yang beroperasi di Indonesia. Begitu banyak pula pekerja Indonesia yang bergantung di perusahaan-perusahaan tersebut.

Lalu bila aksi ini terus berlarut-larut, apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia secara menyeluruh?

Beberapa pengamat meyakini aksi boikot produk Prancis di Indonesia tidak akan berdampak terlalu signifikan. Menurut Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, aksi boikot yang besar pengaruhnya biasanya adalah aksi boikot yang mendapat dukungan oleh institusi besar seperti negara atau swasta.

"Sebagai contoh misalnya aksi boikot yang dilakukan Amerika Serikat terhadap beberapa negara sebelumnya seperti Afrika Selatan ataupun Iran berhasil mengucilkan perekonomian negara tersebut. Sementara dukungan bisnis besar seperti disney, Ford, Coca-Cola terhadap Facebook (FB) pada 2016 yang berdampak pada brand FB pada saat itu," ujar Yusuf kepada detikcom, Minggu (7/11/2020).

Dalam aksi boikot produk Prancis di Indonesia, tidak ada dukungan serupa dari institusi besar seperti negara dan swasta tadi. Demikian pula, aksi ini hanya dijalankan oleh sebagian lapisan masyarakat Indonesia saja sehingga diyakini tidak bakal membawa pengaruh signifikan.

"Betul bahwa Indonesia menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Presiden Perancis, namun Indonesia tidak pernah menyampaikan untuk melakukan pemboikotan terhadap produk asal Prancis (secara resmi). Sementara seruan boikot, juga hanya terjadi di sebagian elemen masyarakat, artinya tidak secara luas dilakukan oleh masyarakat Indonesia sehingga dampaknya ke perusahaan afiliasi Prancis di Indonesia juga tidak akan begitu signifikan," paparnya.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa hubungan dagang RI-Prancis juga relatif kecil dibanding dengan negara lain yakni hanya sekitar 1% saja.

"Artinya ini kemudian tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja dagang kedua negara," tambahnya.

Demikian pula dengan hubungan bilateral di bidang lainnya, Yusuf meyakini akan tetap terjadi dialog yang baik di antara keduanya.

"Adapun untuk hubungan bilateral, saya kira ini masih perlu menunggu dinamika kondisi politik di Prancis sendiri. Namun, saya kira Indonesia masih akan melakukan pendekatan dialog dengan Prancis untuk isu ini. Jadi tidak ada konfrontasi terbuka, menurut saya," timpalnya.

Sedikit berbeda dari Yusuf, menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, dampak yang mungkin bakal dirasakan perusahaan Prancis dalam jangka waktu dekat ini adalah omset yang otomatis semakin tertekan.

"Dampak boikot produk Prancis akan membuat omset perusahaan Prancis semakin tertekan. Misalnya di sektor makanan minuman dan kosmetik sejak awal pandemi sudah terjadi banyak tekanan karena turunnya penjualan. Bahkan berbagai perusahaan di Prancis melakukan PHK massal. Ditambah boikot yg terjadi di berbagai negara muslim tentu akan jadi double tekanannya," tutur Bhima.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2