Sektor Pertanian di Kuartal III Tumbuh 2,15%, Ini Kata Akademisi

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Minggu, 15 Nov 2020 23:22 WIB
Petani memetik teh di perkebunan teh Nglinggo, Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu (16/9/2020). Sentra perkebunan teh Nglinggo selain menjadi penghasil teh, juga menawarkan tujuan wisata alam yang menyuguhkan pemandangan hamparan perkebunan teh.
Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Pertumbuhan sektor pertanian di kuartal III mencapai 2,15%. Menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Damanhuri, pertumbuhan itu merupakan kado istimewa bagi bangsa Indonesia yang tengah berjuang memulihkan ekonomi nasional akibat pandemi COVID-19.

"Dalam situasi pandemi COVID-19 ini, sektor pertanian lebih baik karena tidak separah sektor lainya," ujar Damanhuri dalam keterangan tertulis, Minggu (15/11/2020).

Damanhuri mengatakan sektor pertanian terbukti mampu menyelamatkan ekonomi negara dari jurang krisis yang lebih parah. Pertanian juga bisa dikatakan sebagai pondasi kuat dalam menghadapi kemungkinan krisis global.

"Sepanjang rujukan datanya resmi (BPS) kita harus percaya data yang ada valid," ungkapnya.

Diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif, yakni tumbuh sebesar 2,15% (yoy). Pertumbuhan ini tak lepas dari kondisi harga komoditas pangan kelapa sawit dan kedelai di pasar internasional pada triwulan ke III yang mengalami peningkatan secara (q to q) maupun (yoy).

Terkait hal ini, Kementan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan produksi pada semua subsektor pertanian. Terutama pada tanaman pangan seperti padi, hortikultura dan perkebunan.Berdasarkan catatan BPS juga, 7 sektor untuk lapangan usaha secara tahunan masih akan tumbuh positif. Ketujuh sektor itu di antaranya adalah sektor pertanian, sektor real estat dan jasa kesehatan.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menjelaskan peningkatan itu terjadi karena panen raya padi yang masih berlangsung di sejumlah daerah. Selain itu, juga dari pertumbuhan subsektor hortikultura yang dibarengi dengan peningkatan permintaan buah dan sayuran.

"Dari perkebunan juga tumbuh yang didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri seperti komoditas kakao, karet, cengkeh dan tembakau," jelasnya.

Kuntoro mengatakan peningkatan yang terjadi juga memiliki dampak besar terhadap naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di periode kuartal II dan III tahun ini.

Menurut Kuntoro, salah satu faktor pendorong terhadap capaian tersebut diantaranya adalah tingginya serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian pada periode Januari-Oktober 2020 yang mencapai lebih dari Rp 45 triliun atau sangat signifikan peningkatannya dibanding periode yang sama di tahun 2019.

"Sekali lagi, ini membuktikan bahwa pertanian merupakan sektor tulang punggung bagi perekonomian nasional," pungkasnya.



Simak Video "Ekspresi Jengkel Jokowi soal Subsidi Pupuk yang Besar Tak Buahkan Hasil"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)