Tanda-tanda Ini Jadi Sinyal Ekonomi 2021 Mulai Pulih

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2020 12:52 WIB
Prekonomian Indonesia dipastikan 99% masuk jurang resesi. Itu artinya pertumbuhan ekonomi nasional bakal minus lagi di kuartal III-2020.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat perekonomian global tertekan dan porak-poranda. Namun menjelang akhir tahun mulai terlihat pemulihan.

Salah satu tanda pemulihan adalah adanya inflasi. Presiden Direktur BNI Asset Management Putut Endro Andanawarih mengatakan, inflasi 2021 mendatang akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini. Inflasi adalah kondisi terjadinya peningkatan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus.

"(Inflasi) Ini seiring meningkatnya penyaluran stimulus pemerintah. Kebijakan bunga Bank Indonesia yang relatif bertahan di level 3,75-4% seiring level inflasi yang mulai naik. Tapi masih ada potensi penurunan suku bunga sebesar 25-50 bps dari level saat ini," kata dia dalam acara Webinar Market Outlook 2021 dengan tema "Resilience to Counter Economic Turbulence", Selasa (17/11/2020).

Dari data BI inflasi minggu kedua November 2020 sebesar 0,21% secara bulanan. Kemudian secara tahun kalender 1,17% dan secara tahunan 1,53%.

Penyumbang utama inflasi yaitu daging ayam ras sebesar 0,08%, cabai merah 0,03%, telur ayam ras dan bawang merah 0,02%. Kemudian minyak goreng, tomat dan bawang putih mengalami inflasi sebesar 0,01% month to month.


Putut menyebutkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada level 4-5,1% (upside risk di 6%) pada tahun 2021, didorong oleh gradual recovery dari re-opening economy, khususnya bila vaksin sudah dapat terdistribusi.

"Selain itu diestimasi investasi dan ekspor meningkat, serta belanja dan program stimulus Pemerintah masih cukup solid. Yield SUN 10 tahun diestimasi bergerak pada kisaran 6,27 - 6,65% (risk 7,3%) ditopang likuiditas lokal dan kembali masuknya investor asing ke pasar obligasi di Indonesia," jelas dia.

Putut mengatakan pada tahun 2021 bila risiko pandemi tidak segera berakhir bisa menjadi risiko global supply dalam jangka menengah.

Oleh karena itu menurutnya kondisi perekonomian domestic dan global pada tahun 2021 diprediksikan akan memasuki tahap recovery meskipun masih melambat karena masih ada potensi terjadinya second wave.

Kinerja BNI Asset Management (BNI AM) masih mencatatkan kinerja bisnis yang positif meski di tengah pandemi COVID-19. Perusahaan aset manajemen milik BNI ini tercatat masih membukukan total asset under management (AUM) atau dana kelolaan Rp24,64 triliun.

"Dengan aset under manajemen per Oktober 2020 sebesar Rp 24,64 triliun, BNI Asset Management masih tetap dapat mencatatkan pertumbuhan AUM sebesar 15% sejak awal tahun 2020," kata Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati.

Dia menyebutkan kinerja positif tersebut berkat upaya sinergitas antara seluruh manajemen, investor juga upaya kinerja induknya yakni BNI. Sehingga pada saat ini BNI AM masuk dalam jajaran 10 perusahaan aset manajemen terbesar di Indonesia.

(kil/eds)