China Perketat Impor Makanan Beku, 4 Negara Ini Geram

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2020 22:11 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

Sejumlah negara-negara mitra dagang China seperti Kanada, Brasil, Selandia Baru, dan Australia geram dengan pengetatan ekspor makanan beku ke Negeri Tirai Bambu tersebut. Beberapa bulan ini, China memang memperketat aturan impor makanan beku karena temuan otoritas setempat yang mengklaim kemasan makanan beku dari negara-negara tersebut terkontaminasi virus Corona (COVID-19).

China telah menemukan kontaminasi virus Corona pada produk dari 20 negara, antara lain daging babi Jerman, daging sapi Brasil, dan ikan India.

Namun, pernyataan China itu tak dilengkapi dengan bukti kuat. Sehingga, negara-negara itu menyerukan agar China menghentikan pemeriksaan agresif pada produk-produk makanan beku. Menurut negara-negara itu, kebijakan China telah merusak perdagangan internasional dan juga reputasi produk makanan impor tanpa alasan yang jelas.

Dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) pada 5 dan 6 November 2020, Kanada menyebutkan pengujian China pada produk makanan impor, dan juga penolakan produk yang disebut bereaksi positif pada tes asam nukleat adalah aksi pembatasan perdagangan yang tak dapat dibenarkan. Kanada mendesak China untuk menghentikan pengujian itu.

Desakan Kanada itu didukung oleh Australia, Brasil, Meksiko, Inggris dan Amerika Serikat (AS). Menurut Kanada, China tidak melampirkan bukti ilmiah kuat bahwa produk-produk makanan impor dari negara-negara mitra dagang benar terkontaminasi COVID-19.

Namun, sebuah tabloid yang didukung oleh Partai Komunis yang berkuasa di China memberikan saran agar makanan impor lebih diperketat. Bahkan, majalah yang bernama Global Times menduga virus Corona yang awalnya ditemukan di Wuhan berasal dari makanan yang diimpor dari luar negeri. Artinya, majalah itu menduga virus Corona awalnya bukanlah dari China.

Pengetatan makanan beku impor sudah dilakukan sejak Juni 2020. Aksi itu dilakukan setelah pemerintah menemukan sekelompok pekerja di pasar grosir Beijing terkontaminasi virus Corona.

Langsung klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2