Pemerintah Kenya Tunda Bayar Utang Hampir Rp 10 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 19 Nov 2020 00:03 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah akhirnya tembus ke level Rp 15.000. Ini adalah pertama kalinya dolar AS menyentuh level tersebut pada tahun ini.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pemerintah Kenya berencana menunda pembayaran utang sebesar US$ 690 juta sekitar Rp 9,7 triliun (kurs Rp 14.100/US$). Padahal sebelumnya Kenya menolak mendapatkan penangguhan utang di bawah Debt Service Suspension Initiative (DSSI) G20.

Padahal penangguhan ini bertujuan membantu negara-negara miskin untuk mengatasi pandemi COVID-19. Penolakan Kenya saat itu karena syaratnya dinilai terlalu mengekang.

Menteri Keuangan Kenya Ukur Yatani mengungkapkan konsekuensi yang harus ditanggung kenya akan sangat berat saat itu. "Kami enggan, karena saat itu ada konsekuensi dengan pemegang utang swasta. Tapi kini kami dapat kepastian jika hal tersebut bisa dipertimbangkan," kata dia dikutip dari Reuters, Rabu (18/11/2020).

Dia mengungkapkan keputusan untuk penangguhan ini diharapkan bisa meringankan beban utang Kenya yang selama ini dinilai terlalu berat. Ada sekitar 75 miliar shilling yang akan ditangguhkan.

Menurut Ukur, setelah ini juga akan dibuka pintu untuk pendanaan dari IMF dan Bank Dunia. "Mereka mencoba menawarkan ini sebagai salah satu syarat untuk mengakses sumber dana dari IMF dan Bank Dunia," jelas dia.

Dia menyebut pemerintah Kenya saat ini memang sedang membicarakan fasilitas pinjaman baru dengan IMF. Apalagi saat ini Kenya sedang menghadapi defisit anggaran yang sangat besar akibat krisis Corona.

Sebenarnya Kenya sudah dua tahun meninggalkan utang komersial berbunga tinggi. Namun pendapatan negara akibat pandemi dinilai sangat seret hingga membuat utang membumbung tinggi.

(kil/hns)