Biaya Logistik RI Masih Mahal Banget, KAI dan Pelindo Bisa Apa?

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 12:59 WIB
Pelindo III
Ilustrasi/Foto: Dok Pelindo III
Jakarta -

PT Pelindo III (Persero) bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) baru saja menjalin kerja sama di bidang logistik. Salah satu tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah biaya logistik yang terlalu mahal.

"(Kerja sama MoU) ini untuk mendukung program nasional dalam pengurangan biaya logistik nasional," ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo membuka agenda Penandatanganan MoU tersebut, Jumat (20/11/2020).

Biaya logistik nasional, kata Didiek mencapai 26% dari total PDB Indonesia. Angka itu sangat tinggi bahkan mencapai lebih dari 2 kali lipat rata-rata biaya logistik negara maju di seluruh dunia. Untuk menyelesaikan permasalahan itu, maka diperlukan sinergitas antar berbagai pihak.

Adapun cara kedua perusahaan pelat merah itu menekan biaya logistik RI adalah dengan saling memanfaatkan asetnya untuk memperkuat sistem logistik dan memperlancar arus distribusi barang.

Didiek merinci MoU kali akan fokus pada 3 area pelabuhan terlebih dahulu yaitu Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, dan Pelabuhan Tanjung Intan di Cilacap.

"Kerja sama ini akan dilakukan di lokasi Pelindo III. Kita bertanggung jawab pengembangan Jawa Tengah bagian selatan. Pengembangan ini akan memberikan kemudahan bagi pelaku logistik yang ingin mengirimkan barang dari dan menuju pelabuhan," tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Pelindo III U Saefudin Noer mengungkapkan kendala utama sistem logistik di Tanah Air. Menurutnya, selama ini ada aset yang belum dimanfaatkan secara optimal di kawasan pelabuhan. Adapun salah satu aset yang dimaksud adalah jalur logistik KA.

Untuk itu, dengan penandatanganan MoU ini, ia berharap bisa menyelesaikan kendala tersebut sekaligus meningkatkan perekonomian di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi fokus kerjasama kedua pihak itu.

"Menurut saya salah satu yang penting investasi ini kan kita lakukan (optimalisasi) aset masing-masing. Market apa yang bisa kita suplai dan dalam hal ini teknologi menjadi kunci," imbuhnya.

(eds/eds)