Lara Pedagang Seragam: Omzet Anjlok 90% Selama Tak Ada Sekolah Tatap Muka

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 21 Nov 2020 14:00 WIB
Siswa di lereng Gunung Merapi tetap belajar di sekolah meski status gunung itu kini siaga. KBM tatap muka di sekolah itu hanya dilakukan 2 hari selama 1 minggu.
Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memerintahkan aktivitas belajar dari rumah sejak Maret 2020 lalu, di mana pandemi virus Corona (COVID-19) pertama mewabah di Indonesia. Artinya, sudah sekitar 9 bulan murid-murid Tanah Air tak bersekolah tatap muka.

Kebijakan itu pun akan berlaku hingga akhir tahun, di mana Mendikbud Nadiem Makarim baru memperbolehkan sekolah tatap muka di Januari 2021.

Di tahun 2020 ini, pembukaan tahun ajaran 2020/2021 pada pertengahan tahun lalu diiringi dengan aktivitas belajar dari rumah. Padahal, waktu tersebut merupakan masa-masa termanis bagi para pedagang seragam karena biasanya diserbu masyarakat.

Salah satu pedagang seragam di Pasar Palmerah, Jakarta Barat yang bernama Ayin (53) mengaku, kondisi ini menyebabkan omzet tokonya anjlok hingga 90%. Aktivitas belajar dari rumah menyebabkan tak ada masyarakat yang membeli seragam.

"Omzet turun lebih dari 90%. Sudah rugilah sekarang, nggak ada pemasukan, tapi tetap bayar listrik, iuran biaya pengelolaan pasar (BPP) lewat CMS, ya pengaruh banyaklah ini. Ruginya sudah susah diomongin. Yang paling terdampak ya pedagang seragam sekolah dibandingkan yang lain. Karena orang kalau punya duit ya beli makan dululah, baju nanti-nanti saja," ungkap Ayin ketika ditemui detikcom di Jakarta, Sabtu (21/11/2020).

Tak jauh berbeda, Adi (33) yang juga berdagang seragam sekolah mengaku omzetnya anjlok hingga 80% selama bulan Maret-Juni.

"Saat parah-parahnya Corona kita mencari penglaris saja susah. Maret-Juni kita dapat penglaris sepotong-sepotong saja alhamdulillah. Kalau awal Corona omzet turun 70-80%," imbuh Adi kepada detikcom.

Selanjutnya
Halaman
1 2