Konsumsi Masih Loyo, Ekonomi RI 2021 Diproyeksi Cuma 3%

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 14:47 WIB
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-I 2018 tumbuh 5,2%. Pertumbuhan itu didukung dengan capaian penerimaan pajak maupun nonpajak.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ekonomi Indonesia diyakini akan kembali tumbuh dan pulih dari resesi pada 2021. Namun pertumbuhannya dinilai tidak akan setinggi perkiraan pemerintah yang mencapai 5%.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya berkisar di level 3%. Hal itu dikarenakan masih lemahnya konsumsi masyarakat kelas menengah yang menjadi penyumbang faktor pertumbuhan ekonomi.

"Pertumbuhan ekonomi kita 2021 hanya sekitar 3%. Faktor utamanya karena COVID-19 ini tetap menahan belanja kelas menengah dan karena COVID-19 masih menghantui kelas menengah untuk melakukan konsumsi. Belanja kelas menengah masih belum meningkat ketika pandemi COVID-19 belum mereda," kata Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad dalam webinar bertajuk 'Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi', Senin (23/11/2020).

Faktor lain yang menahan laju pertumbuhan ekonomi disebut karena belum maksimalnya penyerapan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Data Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menunjukkan, per 18 November 2020 realisasi PEN baru mencapai 58,7% atau Rp 408,61 triliun dari total pagu Rp 695,2 triliun.

"Efektivitas penyerapan program PEN pada tahun ini masih belum maksimal. Program perlindungan sosial belum dapat menggerakkan permintaan domestik," ucapnya.

Terlebih jika melihat dari postur APBN 2021, kata Tauhid, tidak tercermin untuk mendorong pemulihan ekonomi. Terlihat dari pengurangan bantuan perlindungan sosial yang hampir separuhnya.

"Ini (APBN) bukan struktur pemulihan tapi pencapaian visi misi Pak Presiden (Jokowi), jadi memang agak berat. Harusnya ada proses penyeimbangan dari visi misi dan proses pemulihan ekonomi," jelasnya.

Kemudian masih terbatasnya stok vaksin COVID-19 di 2021, sehingga terbatas pula proses pemulihan ekonomi. Meski direncakan akan menyasar hampir 70% dari populasi, proses distribusi dan vaksinasi dinilai butuh waktu.

"Estimasi kuartal II-2021 (vaksin) baru berjalan dan distribusi relatif terbats, dengan asumsi ini akan menghambat pemulihan ekonomi karena aktivitas fisik sangat terganggu baik perdagangan, sektor produksi, maupun impilkasi ke sektor jasa terutama pariwisata," tuturnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ekonom Senior INDEF, M Fadhil Hasan. Menurutnya, pemulihan ekonomi tidak akan berjalan instan dan sangat bergantung dari ketersediaan vaksin dan ketiadaan peningkatan kasus Corona.

"Pemulihan ekonomi itu kalau kita lihat fenomenanya tidak akan berjalan secara instan, tapi mungkin secara gradual dan tergantung dari asumsi yang kita gunakan. Misalnya ketersediaan vaksin, tidak ada second wave," ungkapnya.

(eds/eds)