Gara-gara Corona, Perusahaan Kapal Pesiar Ini Rugi Rp 9 T Sebulan

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 16:50 WIB
Kate McCue kerap mendapat pertanyaan terkait pekerjaannya yang sering dipandang sebagai pekerjaan lelaki. McCue diketahui bekerja sebagai kapten kapal pesiar.
Foto: Istimewa/Dok. Instagram/captainkatemccue
Jakarta -

Industri kapal pesiar juga anjlok akibat pandemi COVID-19. Bos Carnival Corporation perusahaan kapal pesiar terbesar di dunia, berharap bisnisnya bisa beroperasi dengan protokol kesehatan dan keamanan.

Kepala Eksekutif Carnival Corporation Arnold Donald mengatakan upaya langkah-langkah protokol kesehatan dan keamanan penumpang dapat membantu industri senilai US$ 150 miliar setara Rp 2.123 triliun (kurs Rp 14.182) itu beroperasi kembali.

"Pengujian kesehatan dan keamanan secara keseluruhan, yang tidak ada dalam skala industri lain akan membantu mengurangi risiko wabah. Seperti pemeriksaan medis tambahan, jarak fisik, memakai masker bisa menjadi di antara tindakan lebih lanjut di kapal," kata Donald, dikutip dari BBC, Senin (23/11/2020).

Namun, Donald mengakui siapapun tidak ada yang bisa menjamin orang akan bebas dari COVID-19 apa pun caranya. Tetapi dia tetap tegas bahwa menyusun protokol kesehatan di kapalnya bisa mencegah penularan.

Tantangan yang sulit dilakukan industri kapal pesiar lainnya yakni meyakini Pusat Pengendalian Penyakit AS yang telah mengatakan bahwa tanpa mitigasi kapal pesiar akan terus menimbulkan risiko penularan COVIS-19 yang lebih besar daripada pengaturan lainnya.

Terbukti saat dua kasus positif COVID-19 di kapal pesiar di awal pandemi telah merugikan industri pelayaran, dengan penumpang meninggal setelah wabah di Diamond Princess, yang dikarantina oleh Jepang, dan Grand Princess yang akhirnya berlabuh di California.

Meskipun membatalkan hanya 18 dari 105 kapalnya, Carnival telah merugi sekitar US$ 650 juta sebulan atau setara Rp 9,1 triliun. Setelah mengumpulkan lebih dari US$ 12 miliar dari investor, Arnold mengatakan dana itu membantu perusahaannya melanjutkan bisnisnya hingga tahun depan.

Musim panas biasanya merupakan waktu tersibuk dalam setahun, tetapi dari Juli hingga Agustus Carnival hanya menghasilkan US$ 31 juta. Tak satu pun dari itu berasal dari penjualan tiket. Jika tahun lalu pendapatan perusahaan sebesar US$ 6,5 miliar, 68% di antaranya berasal dari penjualan tiket.

Arnold mengungkap sulit memprediksi kondisi industrinya pada tahun depan. Khususnya pada musim dingin yang biasanya menguntungkan perusahaan.

(zlf/zlf)