Sampai Oktober 2020, APBN Sudah Tekor Rp 764 T

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 17:08 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Penerimaan negara hingga Oktober 2020 tercatat sebesar Rp 1.276,9 triliun. Angka tersebut mengalami kontraksi 15,4%. Rinciannya, penerimaan perpajakan tercatat Rp 991 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 278,8 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp 548 triliun.

Sedangkan belanja negara hingga Oktober 2020 mencapai Rp 2.041,8 triliun dengan pertumbuhan 13,6%. Jika dirinci, belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.343,8 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa Rp 698 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dengan capaian tersebut, maka APBN masih mengalami defisit Rp 764 triliun hingga Oktober 2020 ini.

"Kalau kita lihat dari sisi belanja negara terjadi pertumbuhan 13,6% dan kalu kita lihat dengan pendapatan, maka defisit kita mencapai Rp 764,9 triliun atau 4,67% dari GDP," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/11/2020).

Sementara itu, untuk ekonomi Indonesia sampai dengan Oktober 2020 tercatat minus 2,0%. Kemudian inflasi 0,95% dan nilai tukar berada di Rp 14.228.

"Suku bunga 3 bulan 3,21 ytd itu lebih rendah, harga minya kita sudah 38 dolar per barel ytd-nya 39,7 dolar, lifting masih di bawah yaitu 700 dan gasnya 1,35 juta dan ytd 988," tuturnya.

(fdl/fdl)