Industri Penerbangan Diprediksi Rugi Rp 2.200 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 25 Nov 2020 14:40 WIB
Ilustrasi pesawat
Foto: iStock
Jakarta -

Industri penerbangan diprediksi akan rugi besar, jika krisis COVID-19 akan berlanjut hingga 2021. Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau The International Air Transport Association (IATA) memperkirakan kerugian akan mencapai US$ 157 miliar setara Rp 2.200 triliun (kurs Rp 14.140) tahun ini dan 2021.

Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac mengatakan COVID-19 menjadikan 2020 sebagai tahun keuangan terburuk. IATA memprediksi total kerugian bersih mencapai US$ 118,5 miliar, lebih buruk dari perkiraan US$ 84,3 miliar pada bulan Juni lalu.

IATA juga menyebut industri penerbangan akan kehilangan US$ 38,7 miliar pada tahun 2021, lebih dalam dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 15,8 miliar.

"Kami perlu membuka kembali perbatasan dengan aman tanpa karantina sehingga orang akan terbang lagi, setidaknya sampai kuartal IV-2021" kata de Juniac, dikutip dari CNN, Rabu (25/11/2020).

De Juniac menambahkan pandemi COVID-19 telah membuat industri penerbangan bertekuk lutut, merugikan maskapai penerbangan hingga US$ 510 miliar karena penjualan anjlok. Maskapai pun telah memangkas puluhan ribu pekerjanya. IATA memperkirakan jumlah penumpang anjlok 60% tahun ini menjadi 1,8 miliar penumpang, kira-kira jumlah yang sama dengan 2003.

Dalam menanggulangi krisis, sejauh ini pemerintah telah memberikan stimulus sebesar US$ 173 miliar kepada maskapai penerbangan, yang telah membantu maskapai menghindari kebangkrutan. Bahkan dengan pemerintah dan pemegang saham, beberapa maskapai penerbangan harus mencari kelonggaran dari kreditor untuk bertahan hidup.

Janji akan vaksin yang aman dan efektif telah menambah optimisme bahwa perjalanan dapat meningkat tahun depan. Tetapi memvaksinasi jutaan orang lintas batas akan membutuhkan waktu.

Menurut IATA mengangkut barang adalah satu-satunya titik terang di industri ini, dengan pendapatan kargo diperkirakan akan meningkat 15% dari 2019 menjadi US$ 117,7 miliar. Sekitar 50% dari semua kargo udara dipindahkan ke dalam pesawat penumpang, tetapi hal itu menyebabkan tarif kargo melonjak.

Namun, kenaikan kargo tidak akan menggantikan penurunan tajam dalam pendapatan penumpang udara, hal itu hanya membantu maskapai penerbangan untuk mempertahankan jaringan internasional maskapai.

Jumlah penumpang diperkirakan akan tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, tetapi tidak akan kembali ke 4,5 miliar yang dicapai tahun lalu. Kemungkinan lonjakan penumpang tumbuh paling cepat 2024, dengan pasar domestik diharapkan pulih lebih cepat daripada layanan internasional.

(zlf/zlf)