Jonan: Setelah Pandemi, Dunia Tidak Akan Lagi Sama

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 26 Nov 2020 14:23 WIB
Poll Ignasius Jonan
Foto: Istimewa
Jakarta -

Perusahaan farmasi berbagai negara sedang berlomba-lomba untuk mengembangkan dan memproduksi vaksin virus Corona (COVID-19). Namun, masih ada masalah baru yang mengancam dan membuat pemulihan ekonomi akan berjalan lambat.

Masalah selanjutnya yakni jumlah vaksin yang masih terbatas dan kendala distribusi antarnegara maupun di dalam negara itu sendiri. Masalah itu yang dinilai akan membuat Indonesia menghadapi krisis berkepanjangan.

"Menurut saya di masa pandemi ini adalah masa krisis pelan-pelan yang panjang. Jadi kita kuartal I masih positif, kuartal II minus, kuartal III minus, kuartal IV nggak tahu nih. Dalam pandangan saya sampai vaksinnya belum bisa diterapkan sampai selesai, saya tidak tahu deh," kata mantan Menteri ESDM sekaligus mantan Menteri Perhubungan RI, Ignasius Jonan dalam webinar yang diselenggarakan Infobank, Kamis (26/11/2020).

Belum lagi terkait proses vaksinasinya. Selama masyarakat masih dalam proses vaksin, kata Jonan, proses kehidupan dan ekonomi tidak akan berjalan normal seperti sebelum Corona.

"Dalam proses ini pasti hidupnya masih tetap tidak normal. Coba bayangkan kalau misalnya 1 hari bisa melakukan vaksinasi seluruh atau 10 provinsi 1 juta sehari, itu butuh 180 hari untuk vaksinasi, saya tidak tahu itu bisa nggak. Kalau cuma 1/2 juta itu butuh 360 hari. Jadi ini is still another year untuk kita menjalani atau melaksanakan protokol kesehatan," ucapnya.

Untuk itu, dia menyarankan agar para pengusaha terutama di bidang jasa untuk memikirkan bagaimana cara bisnisnya agar bisa berlanjut. Sebab, kehidupan pasca COVID-2020 dinilai tidak akan sama lagi.

"Menurut saya setelah pandemi ini selesai dunia tidak akan sama lagi. Ini yang saya pikir bapak/ibu kalau masih berkegiatan bisnis mesti dipikir dalam keadaan kayak gini bisnisnya apa," ucapnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo. Meskipun sudah ada vaksin yang diklaim efektif di atas 90%, masalah ke depan yang masih dipikirkan adalah soal implementasinya.

"Mulai dari persoalan transportasi karena harus disimpan dengan suhu di bawah minus 70 derajat celcius (vaksin Pfizer). Kemudian bagaimana cara vaksinasinya, yang Sinovac bahkan dikatakan harus dituntik 2x dalam periode 10 hari, bagaimana kemudian menyuntik orang mau tepat waktu, ini berkaitan dengan persoalan disiplin," katanya dalam kesempatan yang sama.

(zlf/zlf)