Buset! Omzet Jualan Tanaman Hias Bisa Tembus Miliaran Sebulan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 29 Nov 2020 12:03 WIB
Tanaman hias
Foto: Tanaman hias/Vadhia Lidyana

Ia mengaku, awal berjualan tanaman hias di tahun 2018, omzetnya hanya Rp 2 juta/bulan. Namun, memasuki 2019 dan sudah mulai mengekspor, rata-rata omzetnya tembus Rp 28 juta/bulan. Namun, di Mei 2020 ini meledak ke angka Rp 500-600 juta.

"Saya rasa di bulan itu hampir semua eksportir merasakan sama, memang tinggi sampai 10 kali lipat naiknya," ujar Ayu.

Selain para penjual tanaman hias ukuran besar itu, seorang penjual tanaman hias ukuran kecil atau jenis sukulen yang bernama Putri Nabila juga merasakan peningkatan omzet di tengah pandemi. Pemilik toko @Succuland_ itu mengatakan, omzetnya naik 2 kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.

"Kalau peningkatan tinggi banget. Omzetnya sebelum ramai, sekitar Rp 10 juta/bulan. Sesudah tren ini Rp 20 juta/bulan, jadi peningkatannya pesat banget," ujar Nabila kepada detikcom.

Ia mengatakan, awalnya fokus menjual sukulen ini baru dimulai pada Februari 2020. Ia mulai berjualan sukulen bersama temannya, Tasya Shafira. Ia mengatakan, di awal-awal penjualan dengan modal Rp 500.000, ia memerlukan waktu 2 bulan sampai balik moda. Namun, kondisinya berbeda lagi saat pandemi.

"Di toko saya awalnya pas belum nge-tren 2 bulan untuk balik modal. Tapi sekarang nge-tren 2 minggu sudah balik modal," ujarnya.

Selain para penjual tanaman hias, penjual pot pun turut kena rezeki 'nomplok' di tengah pandemi. Sugiyono misalnya, pemilik toko Kharisma Jaya yang menjual beragam pot untuk tanaman, dan juga alat berkebun lainnya di kawasan Ciledug dan Bintaro juga meraup omzet yang besar saat tanaman hias marak.

Ia mengaku, omzet tokonya tembus sampai Rp 1 miliar dalam satu bulan di tengah pandemi ini.

"Pernah di 2020 ini Rp 1 miliar. Omzet tertinggi sejak Juli-Oktober 2020. Tapi November ini mulai turun sedikit, mungkin karena orang sudah masuk kerja," ucapnya.

Ia menjelaskan, pot yang dijualnya memiliki variasi harga, mulai dari Rp 1.000-100.000. Ia menjual pot hampir ke seluruh kawasan Indonesia.

"Saya pengiriman dari Aceh sampai Papua. Kalau partai besar itu untuk ke toko-toko lagi, ada reseller online juga," pungkasnya.

Halaman

(zlf/zlf)