Libur Panjang Mau Dipotong Bisa Bikin Pelancong Galau

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 29 Nov 2020 16:59 WIB
Libur Panjang Dikorting
Foto: Libur Panjang Dikorting (Mindra Purnomo/tim infografis detikcom)
Jakarta -

Pemerintah berencana memotong libur panjang alias cuti bersama akhir tahun, hal ini dilakukan demi menekan naiknya kasus COVID-19. Rencana ini dinilai membuat traveller alias pelancong galau.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran hal itu tercermin dari mulai banyaknya pelancong yang membatalkan reservasi hotelnya.

"Sudah banyak juga yang laporan, kemarin di Yogyakarta misalnya. Karena isu ini udah banyak juga traveller yang melakukan cancelation," ujar Maulana kepada detikcom, Minggu (29/11/2020).

Maulana menilai pemotongan libur panjang akhir tahun bisa membuat kepercayaan publik untuk berwisata jadi turun. Pasalnya, dengan kebijakan berubah-ubah membuat para pelancong sulit merencanakan perjalanannya.

"Ini dipotong begini ya jadinya menurunkan public trust-nya juga untuk wisata. Ini bisa jadi kekacauan. Pemotongan libur ini membuat mata rantai jadi berantakan, reservasi pesawat dan hotelnya," kata Maulana.

Dia juga mengkritisi pemerintah terlalu sering berubah-ubah dalam menentukan kebijakan. Soal libur panjang akhir tahun misalnya, menurutnya hal ini sudah dijanjikan untuk menggantikan libur lebaran yang saat itu diundur karena pandemi Corona sedang gila-gilanya menghantam Indonesia, kini justru mau ditiadakan.

Karena kebijakan yang berubah akhirnya para pelancong yang kesulitan melakukan pemesanan karena rencana liburan yang dibuat harus berubah karena libur panjang dipotong.

"Jelas kita harap ini nggak dipotong, ini kan didesain sejak lama, saat lebaran masih kondisi tinggi pandeminya dijanjikan di akhir tahun ini. Makanya traveller reservasi juga susah karena pemerintahnya juga nggak konsisten berubah-ubah tengah jalan," kata Maulana.

Di sisi lain, menurutnya gelombang pembatalan reservasi yang terjadi imbas isu libur panjang dipotong bisa menimbulkan masalah baru.

Maulana mengatakan pihaknya tak bisa mudah saja melakukan pengembalian uang apabila ada pesanan hotel yang dibatalkan. Penjadwalan ulang pesanan juga tidak mudah dilakukan.

"Traveller ini kan banyak yang melakukan planning sejak awal, nah itu juga nggak mungkin mereka mudah refund, reschedule. Karena ada uang di dalam situ, nggak semudah teori aja dibalikin, ini by system," kata Maulana.

"Kan kita bukan toko kelontong, makanya ini jadi masalah baru," ujarnya.

(dna/dna)