RI Punya Potensi Besar, Ini Tantangan Berat Pengembangan Rumput Laut

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 29 Nov 2020 17:45 WIB
Tak sedikit warga di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, mencari nafkah dengan menjadi petani rumput laut. Seperti apa potret aktivitas para petani rumput laut?
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indonesia punya peluang besar dalam pengembangan rumput laut. Sebab, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar rumput laut dunia.

Meski begitu, potensi tersebut masih penuh tantangan khususnya dihadapi oleh pembudi daya. Pengusaha budi daya rumput laut harus menghadapi ketidakpastian harga ketika musim panen tiba. Suplai melimpah membuat harga rumput laut jatuh dan mereka terpaksa menjualnya dengan harga murah.

Pada musim panen berikutnya, ketika harga naik, pembudi daya rumput laut tidak bisa menikmatinya karena mereka tidak punya cukup modal untuk melakukan budi daya. Sementara itu, akses permodalan menjadi terbatas karena banyak lembaga keuangan yang tidak tertarik dengan jaminan stok rumput laut yang banyak dimiliki pembudi daya.

Untuk mengatasi masalah itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP), meluncurkan program pembiayaan Sistem Resi Gudang (SRG) rumput, di Gudang SRG Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo), Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat lalu (27/11/2020). Sistem ini untuk mendorong pengelolaan hasil produk kelautan dan perikanan.

Direktur LPMUKP Syarif Syahrial menyatakan SRG di Makassar merupakan awal pelaksanaan program pemberdayaan nelayan, juga pembudi daya rumput laut, yang dirancang bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag), Direktorat Jenderal (Ditjen) Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, dan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI).

"SRG sangat penting untuk memberikan kepastian harga, karena pembudi daya rumput laut, termasuk nelayan, dihadapkan dengan turunnya harga ketika produksi melimpah. Diharapkan dengan sistem ini, nelayan tidak perlu khawatir lagi terhadap ancaman penurunan harga saat panen," kata Syarif, dalam keterangannya, Minggu (29/11/2020).

"Dengan Sistem Resi Gudang, pinjaman bisa mencapai 70% dari nilai barang yang tercantum. Hal ini tentu merupakan angin segar untuk koperasi maupun pelaku UMKM sektor kelautan dan perikanan. LPMUKP pun akan terus berupaya untuk memberikan strategi dan alternatif bagi pelaku usaha UMKM kelautan dan perikanan agar semakin mudah dalam mengakses peminjaman modal. Apalagi, bagi nasabah yang terkena dampak COVID-19," tambah Syarif.

Sebagaimana produk yang mempunyai unsur musiman, pengelolaan hasil kelautan dan perikanan perlu menerapkan SRG, untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus mencegah terjadinya fluktuasi nilai produk, yang pada akhirnya akan memengaruhi produktivitas nelayan. SRG adalah salah satu instrumen pinjaman atau pembiayaan bagi nelayan dan petani.

Sementara itu, Kospermindo telah memperoleh izin Bappebti untuk mengoperasikan SRG produk rumput laut. LPMUKP membiayai mitra Kospermindo, yang menjaminkan rumput lautnya.

Harapannya, pembudi daya tidak perlu lagi khawatir akan potensi penurunan harga ketika stok rumput laut melimpah. Lantaran, mereka dapat menyimpan produknya di gudang dengan mendapatkan modal untuk proses produksi berikutnya.

(acd/dna)