Aplikasi Jasa Pengiriman Ambil Untung Gede, Restoran Kelabakan

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 10:50 WIB
LONDON, ENGLAND - FEBRUARY 16: An Uber Eats rider cycles through central London on February 16, 2018 in London, England. Millions of part-time and flexible workers in the so-called gig economy are to receive new rights including sick and holiday pay under a new government reform. (Photo by Jack Taylor/Getty Images)
Foto: Jack Taylor/Getty Images

Sejak pandemi melanda, orang AS terpaksa untuk tinggal di rumah. Restoran di seluruh wilayah dipaksa ditutup untuk menahan penularan COVID-19. Hal itu mendorong restoran ramai-ramai mendaftarkan diri ke aplikasi pengiriman online untuk meningkatkan penjualan.

CEO Grubhub Matt Maloney menyebutkan bahwa banyak restoran baru telah mendaftar untuk layanannya sejak pandemi. Sebuah laporan yang dirilis oleh Technomic dan Uber Eats pada bulan Juli menemukan lonjakan 27% pada operator restoran yang menggunakan layanan pengiriman pihak ketiga sejak pertengahan Maret.

Beberapa layanan pengiriman online mengklaim biaya yang mereka berikan kepada restoran tidak terlalu besar sebab mereka juga ingin membantu restoran dari dampak pandemi. Di Denver, New York City, Los Angeles, dan tempat lain, para pejabat memilih untuk memberlakukan batasan darurat dengan menetapkan biaya dari penyedia pengiriman online maksimal 15%.

Juru bicara Uber Eats menunjukkan bahwa meskipun layanan tersebut mengenakan biaya 30% per pesanan untuk pengiriman, biaya tersebut turun menjadi 15% jika restoran menggunakan driver mereka sendiri. Grubhub, dan Seamless juga memperbolehkan restoran menggunakan driver sendiri untuk menghindari biaya yang besar.

Aplikasi DoorDash Storefront, yang juga membantu restoran mendirikan toko online memberikan keringanan dengan memfasilitasi negosiasi pada tarif yang akan didapat restoran.


(fdl/fdl)