Pengusaha Kosmetik China Jadi Orang Terkaya di Tengah Corona, Kok BIsa?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 15:30 WIB
Shot of a collection of makeup
Foto: iStock
Jakarta -

Pengusaha kosmetik China, Huang Jinfeng masuk dalam dalam jajaran miliarder dunia. Sebab, startup kecantikan dan e-commerce miliknya yakni Yatsen Holding melantai di bursa saham Amerika Serikat (AS).

Seperti dikutip dari Forbes, Senin (30/11/2020), perusahaan berbasis di Guangzhou ini menjual sejumlah merek produk kecantikan seperti Perfect Diary, Little Ondine dan Abby's Choice. Saham perusahaan meningkat 75% dalam debutnya di New York Stock Exchange.

Perusahaan menghimpun dana US$ 617 juta melalui penawaran umum perdana. Saat ini, nilai pasar perusahaan mencapai US$ 7,8 miliar.

Tercatat sebagai salah satu pendiri dan CEO, Huang diperkirakan memiliki kekayaan bersih US$ 3 miliar atau setara Rp 42 triliun (kurs Rp 14.000) yang berasal dari 25% kepemilikannya di perusahaan menurut Forbes.

Lebih lanjut, Yatsen sendiri berdiri empat tahun lalu. Perusahaan ini mampu menonjol di pasar kosmestik China karena menawarkan harga yang kompetitif dan strategi media sosial yang cerdas. Langkah itu memotong biaya distributor sehingga bisa menjual produk seperti eye shadow dengan harga US$ 4,5 dan eyeliners langsung ke konsumen muda.

Perusahaan bekerja dengan selebriti dan influencer untuk memasarkannya di platform media sosial seperti aplikasi video pendek Douyin dan Sina Weibo atau 'Twitternya' China.

Meskipun pemasaran digital seperti itu bukanlah hal baru, tapi Yatsen mampu bersaing dengan merek global lain seperti L'Oreal. Demikian diungkapkan Sofya Bakhta, seorang analis di perusahaan riset Daxue Consulting yang berbasis di Shanghai.

"Ini dengan cepat membangun kesadaran merek dan reputasi di pasar lokal," katanya.

"Merek ini menawarkan harga yang sangat terjangkau, melakukan pemasaran yang kuat, dan di atas itu, merek domestik China, yang membangkitkan rasa bangga dan patriotik di antara pelanggan China," sambungnya.

Tahun lalu, pendapatan Yatsen melonjak hampir lima kali lipat menjadi US$ 446 juta dari 2018. Namun, bukan berarti perusahaan kebal pandemi karena 200 toko terpaksa tutup karena aturan karantina yang ketat.

Yatsen melaporkan kerugian US$ 170 juta selama sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2020 dibandingkan dengan laba US$ 4,4 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan tumbuh 73% menjadi US$ 482 juta, tapi itu lebih lambat dari perkiraan terhadap dampak pandemi.

(acd/zlf)