Industri Manufaktur RI Bergeliat Lagi, Sri Mulyani Ogah Terkecoh

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 01 Des 2020 18:28 WIB
Perdagangan saham tahunan 2019 resmi ditutup. Seremonial penutupan perdagangan saham itu dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia meningkat di November 2020. Hal itu menandakan industri manufaktur tanah air mulai menggeliat kembali di tengah pandemi COVID-19. Berdasarkan survei IHS Markit, PMI Indonesia berada di level 50,6 dari sebelumnya di posisi 47,8.

Menanggapi itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih khawatir dengan kondisi pandemi COVID-19 yang membuat adanya gelombang kedua di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sebab, menurut dia kondisi tersebut akan membatasi sisi permintaan.

"Karena masyarakat harus mengalami pembatasan sosial. Seperti terjadi sekarang di AS, Eropa dan negara Asia pun selalu bergulat. Namun gimana dia bisa tetap kembalikan kegiatan sosial ekonomi tanpa memperburuk kenaikan COVID," ujar Sri Mulyani dalam video conference, Selasa (1/12/2020).

"Jadi demand side itu menjadi sangat tergantung dari COVID. Ini perlu untuk menjadi perhatian kita," tambahnya.

Sementara Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan peningkatan PMI Indonesia ke level 50 menandakan industri dalam negeri sudah mulai berekspansi kembali meski masih relatif terbatas.

Dengan perbaikan PMI Indonesia, Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ini bisa berdampak besar bagi perekonomian nasional di kuartal IV-2020.

"Kita harap secara gradual, ekspansi industri jadi basis yang baik bagi pemulihan ekonomi berkelanjutan. Kita harap pemulihan ajeg, pelan-pelan tapi pasti dan dikombinasikan dengan protokol kesehatan sehingga ekspansi ekonomi bisa berlangsung baik tanpa disertai COVID terlalu tinggi," ungkap Suahasil.

(hek/eds)