Selamat dari Resesi, Australia Hadapi Perang Dagang dengan China

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 22:20 WIB
Perekonomian Australia Terlalu Tergantung Pada China
Ilustrasi/Foto: ABC Australia
Jakarta -

Australia telah keluar dari jurang resesi ekonomi akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Resesi yang sempat terjadi merupakan pertama sejak 30 tahun.

Pekerjaan rumah (PR) selanjutnya yang harus dilakukan oleh pemerintah Negeri Kanguru itu adalah menjaga pemulihan ekonomi sambil menyelesaikan perang dagangnya dengan China, yang merupakan pasar ekspor terbesarnya.

Ketegangan Canberra dengan Beijing dinilai dapat membayangi pemulihan ekonomi. Bendahara Federal Josh Frydenberg menyebut perselisihan dengan China sebagai situasi yang sangat serius.

"China adalah mitra dagang nomor satu kami. Banyak pekerjaan Australia bergantung pada perdagangan," kata Frydenberg dikutip dari CNN, Rabu (2/12/2020).

Untuk diketahui, hubungan Australia dan China memburuk sejak Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison menyerukan penyelidikan Internasional tentang asal-usul pandemi virus Corona pada April. Beijing menilai hal itu sebagai langkah manipulasi politik. Di sisi lain China mematok tarif hingga 212% untuk produk wine asal Australia, yang banyak digemari masyarakat China.

Biro Statistik Australia telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Australia berada di angka positif 3,3% pada Juli-September, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pemulihan sebagian besar didorong oleh peningkatan pengeluaran rumah tangga, karena pembatasan COVID-19 yang dicabut di sebagian besar negara, kecuali pada negara bagian Victoria yang sangat padat penduduk.

"Seperti yang dikatakan gubernur Reserve Bank pagi ini, kami sekarang telah berbelok dan pemulihan sedang berlangsung. Meskipun tetap banyak tantangan seperti halnya di seluruh dunia," ucapnya.

Sebelumnya, China mematok tarif masuk yang besar untuk produk wine dari Australia. Kini para pembuat wine dari Australia harus menemukan pasar baru untuk menggantikannya.
Melansir CNN, Senin (30/11/2020), pemerintah China pekan lalu memutuskan untuk memberlakukan tarif hingga 212% untuk produk wine asal Australia.

CEO Australian Grape and Wine, Tony Battaglene mengatakan, keputusan itu telah membahayakan bisnis mereka di China daratan. Sebanyak 800 produsen anggur di Australia yang telah menggantungkan bisnisnya di pasar China. Sementara mereka tidak memiliki pasar cadangan untuk mempertahankan bisnisnya.

(hns/hns)