Wow! Belanja Wisatawan Muslim Diproyeksi Tembus Rp 3.800 T di 2024

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 03 Des 2020 12:30 WIB
Ilustrasi wanita muslim di kereta.
Ilustrasi/Foto: (dok Wego)

Sementara itu, bagi koresponden Malaysia hanya 33,33% yang ingin berwisata lintas negara secepat mungkin jika larangan dicabut. Kemudian, hanya 7,94% yang tetap ingin berwisata di 2020 dalam kondisi apapun. Lalu 15,87% responden Malaysia yang berencana wisata lintas negara pada semester I-2021, dan paling banyak yakni 42,86% responden yang memilih di semester II-2021.

"Mayoritas responden punya rencana untuk melakukan dua perjalanan, di antara sekarang atau di akhir tahun 2022. Sementara itu, responden dari Malaysia berencana berwisata lintas negara di semester II-2020. Sedangkan, responden Indonesia sudah bersiap-siap untuk berwisata lintas negara jika larangan sudah dicabut," ujar Nina.

Ia mengatakan, di periode new normal tujuan wisata internasional yang paling diinginkan adalah di kawasan timur laut Asia, Eropa, dan Asia Tenggara.

Dari sisi pemilihan akomodasi, para wisatawan muslim kini mengutamakan protokol kesehatan, memiliki review dari wisatawan lainnya, dekat dengan transportasi umum, free WiFi, dan sebagainya.

Perubahan signifikan ada di pemilihan tujuan wisata. Berdasarkan hasil survei, para wisatawan muslim tak lagi mengutamakan tujuan yang muslim travel friendly. Akan tetapi, mereka mengutamakan kebersihan, keamanan, dan setimpal dengan yang yang dikeluarkan. Begitu juga kondisi destinasi wisata yang jauh dari keramaian.

"Lalu, ketersediaan air yang bersih dan cukup di kamar mandi dan toilet, serta cuaca. Poin penting lainnya yang berubah ialah tujuan wisata negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tak selalu menjadi pilihan pertama. sebanyak 2/3 dari responden mementingkan destinasi yang tak ada keramaian di saat new normal. Dan lebih dari 50% responden memilih wisata di alam," imbuh dia.

Terakhir, menurutnya hal terpenting yang harus dilakukan oleh para pengusaha di industri pariwisata ialah menyediakan jasa pembatalan gratis atau tanpa dipungut biaya. Menurutnya, hal itulah yang paling dicari di tengah pandemi. Pasalnya, para wisatawan akan ditemukan pada kondisi yang tidak pasti.


(ara/ara)