Ekspor RI Masih Keok!

Danang Sugianto - detikFinance
Sabtu, 05 Des 2020 08:30 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/9/2012). Pengamat Ekonomi dari Standard Chartered Bank mengatakan perekonomian dunia akan mengalami kenaikan pada level 3,2%. Pertumbuhan tersebut akan berdampak pada impor dan ekspor Indonesia pada tahun 2013.
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan data ekspor produk RI yang masih keok dari negara lain. Padahal menurutnya peningkatkan ekspor merupakan salah satu kunci untuk memperbaiki perekonomian saat ini.

Menurutnya kinerja ekspor Indonesia saat ini sebenarnya sudah cukup baik. Pada periode Januari sampai Oktober 2020 surplus US$ 17,07 miliar.

"Tapi kita tidak boleh cepat puas pada capaian saat ini karena potensi pasar ekspor yang belum tergarap masih banyak, masih sangat besar," ucapnya dalam acara pelepasan Ekspor Produk Indonesia yang Bernilai Tambah dan Berkelanjutan ke Pasar Global, Jumat (4/12/2020).

Jokowi pun membeberkan beberapa komoditas ekspor RI yang masih keok. Kopi misalnya pada 2019 Indonesia merupakan produsen kopi terbesar nomor 4 di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Namun ternyata Indonesia justru menjadi ekspor terbesar ke-8 dan kalah dari negara-negara itu.

"Kalah dengan Brazil, Swiss, Jerman, Kolombia, bahkan oleh Vietnam. Jadi potret kita kinerja ekspor kopi Indonesia masih tertinggal dengan Vietnam yang pada 2019 mencapai US$ 2,22 miliar. Sedangkan kinerja ekspor kopi Indonesia tahun 2019 berada di angka US$ 883, 12 juta," terangnya.

Jokowi melanjutkan, Indonesia juga menjadi produsen garmen terbesar kedelapan di dunia. Namun pada kenyataannya Indonesia menjadi eksportir garmen yang 22 terbesar dunia.

"Kita menjadi produsen kayu ringan terbesar di dunia, termasuk jenis kayu sengon dan jabon. Tapi menjadi eksportir home decor ke-19 terbesar di dunia. Bahkan kita kalah dengan Vietnam dan kita hanya di peringkat ke-21 terbesar dunia dalam ekspor produk furniture. Ekspornya juga masih di peringkat ke-13 dunia. Inilah fakta-fakta yang harus saya sampaikan," tambahnya.

Namun Jokowi menegaskan, data yang dibeberkan itu bukan untuk membuat para pelaku eksportir pesimistis. Menurutnya banyak hal yang masih bisa diperbaiki dan harus dilakukan reformasi secara besar-besaran dari kinerja ekspor Indonesia.

(das/fdl)