Bila Gojek dan Grab Jadi Merger, Siapa Untung Siapa Buntung?

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 07:30 WIB
Gojek-Grab Kawin
Foto: Gojek-Grab 'Kawin' (Tim Infografis Fuad Hasim)
Jakarta -

Isu merger Gojek dan Grab terus mencuat ke publik. Berbagai spekulasi bermunculan dan jadi perbincangan, salah satunya adalah siapa yang akan untung dan rugi dengan adanya rencana ini.

Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai rencana merger Gojek dan Grab dapat membuat para driver angkutan online mengalami kerugian. Dia menjelaskan selama ini banyak driver yang memiliki dua akun dalam beroperasi, baik akun Gojek dan Grab.

Hal itu dilakukan untuk bisa mendapatkan benefit lebih banyak dan memudahkan mencari penumpang. Kalau merger dilakukan, kemungkinan hal itu tidak bisa didapatkan lagi.

"Memang driver yang paling dirugikan. Ini kan banyak driver pakai dua akun ya, salah satunya biar lebih mudah dapat order. Nah kalau disatuin ya mereka rugi, pendapatannya bisa menurun karena makin susah cari order," kata Djoko kepada detikcom, Minggu (6/12/2020).

Djoko menilai meskipun dua perusahaan bergabung, nasib driver angkutan online akan tetap sama saja. Pasalnya selama ini driver angkutan online statusnya masih mitra, dan kebanyakan membuat kedudukan driver lemah.

Maka dari itu apabila tidak ada perubahan pada sistem kerja itu driver justru akan semakin dirugikan apabila merger Gojek dan Grab dilakukan.

"Saya nggak jamin kalau bergabung bisa kasih kesejahteraan buat driver. Itu kan tetap aja bosnya, apalagi selama ini masih kemitraan juga ya sama aja, nggak akan berubah sistemnya. Itu kan kayak perbudakan modern," ujar Djoko.