Alhamdulillah, KUR BRI Bikin Petani di Rupat Bisa Punya 30 Ha Sawit

Angga Laraspati - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 12:20 WIB
Nasabah BRI
Foto: Pradita Utama
Bengkalis -

Pengalaman sebagai pekerja di salah satu lahan sawit di Malaysia, membuat Sawin (58) berniat menggeluti usaha kelapa sawit di Tanah Air. Pria asal Cilacap ini sudah memulai usaha kelapa sawitnya sejak tahun 2000 dengan modal Rp 200 juta untuk 10 hektare lahan di Pulau Rupat, Bengkalis, Riau.

Kepada tim Tapal Batas detikcom, dia mengatakan hasilnya tidak bisa langsung dinikmati begitu saja pada awalnya, ia harus menunggu selama 4 tahun sampai lahan 10 hektare yang ditanaminya panen.

"Awal kami jual cuma 70 kg dari seluas 10 hektare tersebut, tapi besoknya sudah 200 kg, besoknya lagi 500 kg, meningkat terus hingga pernah mencapai 18 ton untuk 10 hektare," tutur Sawin kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Pada tahun 2015 ia pun memutuskan untuk mengajukan pinjaman KUR ke Bank BRI sebesar Rp 25.000.000 untuk membeli lahan lagi di Pulau Rupat sekitar 6 hektare yang kemudian ditanami lagi sawit.

"Kemudian pinjam lagi Rp 50.000.000 untuk membeli lahan kembali seluas 5 hektare. Jadi sekarang saya punya total sekitar ada kurang lebih 30 hektar berkat bantuan KUR dari BRI," imbuh Sawin.

Ia pun mengatakan dengan adanya bantuan KUR dari Bank BRI usaha yang ia tekuni sejak lama ini semakin maju. Bahkan satu buah Pajero Sport sudah terparkir di rumah sederhana miliknya.

"Dengan adanya bantuan pinjaman dari BRI jadi sudah lumayan gitu untuk kami beli mobil untuk operasional. Dulu awalnya saya hanya punya 10 hektare, setelah ada pinjaman dari BRI untuk memperluas lahan jadi bisa memiliki total kira-kira 30 hektare," tuturnya.

Di sisi lain, di masa pandemi kali ini ia juga mengatakan kalau sedang musim trek yaitu ketika lahan sawit tidak menghasilkan atau buah yang dihasilkan sedikit harganya bisa mahal. Namun ketika musim banjir panen yang sekitar bulan Mei hingga Juli harga jual kelapa sawit anjlok hingga Rp 800/kg karena banyak buah yang busuk.

"Kalau sekarang harga waktu pandemi masih termasuk aman, per kilo masih sekitar Rp 1.600/kg. Saya di bulan pandemi ini juga bisa menghasilkan Rp 15-18 juta dalam sekali panen. Karena masa panen itu 2 minggu sekali, jadi omzet saya itu rata-rata Rp 30.000.000 per bulan," imbuhnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(mul/mpr)