Pembahasan Brexit Alot, Inggris Dibayangi Badai Pengangguran

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 08 Des 2020 09:45 WIB
Boris Johnson Menang Besar, Uni Eropa Fokus Brexit
Ilustrasi/Foto: DW (News)
Jakarta -

Pembicaraan Brexit memasuki tahap terakhir. Tetapi pembicaraan untuk mencapai kesepakatan berisiko gagal karena tiga poin penting, yakni hak menangkap ikan, bantuan pemerintah untuk perusahaan, dan bagaimana perselisihan diselesaikan.

Di sisi lain, melansir CNN, Selasa (8/12/2020), Perdana Menteri Inggris Boris Johnson harus memutuskan, apakah dia berpegang teguh pada definisi kedaulatannya, atau mengesampingkan ideologi dan mungkin harga dirinya sendiri untuk melindungi sektor tenaga kerja dan ekonomi.

Johnson harus memutuskan, jika meninggalkan Uni Eropa berarti akan cukup membebani perusahaan Inggris. Dan keluar tanpa pengaturan baru tentang perdagangan bisa menjadi bencana besar.

Perusahaan-perusahaan Inggris yang sudah kelelahan melawan pandemi COVID-19 akan kehilangan akses bebas tarif dan bebas kuota ke pasar 450 juta konsumen yang saat ini menjadi tujuan 43% ekspor Inggris.

Brexit tanpa kesepakatan akan mengurangi produksi dengan tambahan 2% pada 2021, atau sekitar £ 40 miliar (US$ 53 miliar), dan mengirimkan lebih dari 300.000 orang ke garis pengangguran pada paruh kedua tahun depan, menurut Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris (OBR).

"Efek jangka panjang (Brexit tanpa kesepakatan) akan lebih besar daripada efek jangka panjang COVID," kata Gubernur Bank of England Andrew Bailey kepada parlemen bulan lalu.

"Butuh waktu lebih lama bagi apa yang saya sebut sisi riil ekonomi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan keterbukaan dan perubahan profil perdagangan," tambahnya.

(toy/eds)