Bos Bank Sentral Filipina Ramal Ekonomi Dunia Anjlok Lebih Parah

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 09 Des 2020 16:51 WIB
Potret Kehidupan Baru Pasca Lockdown di Beberapa Negara Dunia

Negara-negara ini telah melonggarkan lockdown karena penyebaran virus Corona melambat. Seperti apa gejolak ekonomi pasca lockdown di negara-negara tersebut. Begini gambaran kehidupan baru dinegara-negara itu.
Foto: AP/Alexandra Wey
Jakarta -

Ekonomi duniadiproyeksi akan menurun dalam waktu dekat. Hal itu didorong meningkatnya kasus COVID-19 di beberapa negara. Gubernur Bank Sentral Filipina Benjamin Diokno memperkirakan kuartal IV hingga kuartal I-2021 ekonomi dunia lebih buruk dari perkiraan International Monetary Fund (IMF)

"Peristiwa baru-baru ini, menurut saya, menunjukkan kemunduran daripada perbaikan dalam jangka pendek. Jadi saya melihat kuartal keempat hingga mungkin kuartal pertama tahun depan lebih buruk dari perkiraan IMF," kata Diokno, dikutip dari CNBC, Rabu (9/12/2020).

Sebagai informasi, IMF pada Oktober lalu memperkirakan ekonomi global akan berkontraksi sebesar 4,4% tahun ini. Perkiraan IMF terbaru itu merupakan revisi naik dari proyeksi sebelumnya yang dibuat pada Juni lalu.

Diokno menjelaskan sebelum manfaat vaksin dirasakan ekonomi global, ekonomi Eropa dan AS terus mengalami penurunan akibat meningkatnya kasus COVID-19. Beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan juga mengalami peningkatan kasus.

Menurut Universitas Johns Hopkins secara global, ada lebih dari 68 juta kasus COVID-19 yang dilaporkan dan lebih dari 1,5 juta kematian. AS, India, dan Brasil adalah tiga negara dengan kasus dan kematian paling banyak dilaporkan.

Meski demikian, menurut Diokno ketersediaan vaksin diproyeksi akan mengangkat prospek ekonomi global pada kuartal I-2021. Dia menambahkan China yang tampaknya termasuk yang paling awal lepas dari COVID-19 dan akan membantu Asia memimpin pemulihan ekonomi global.

Diokno juga mengungkap ekonomi Filipina juga kemungkinan akan bangkit kembali tahun depan, setelah diperkirakan kontraksi 9% tahun ini. Menurutnya, negara di Asia Tenggara berada di posisi kuat ketika pandemi melanda. Hal itu disebabkan pemerintah yang terus memberikan bantuan uang dan kebijakan yang meningkatkan perekonomian di masa krisis.

(zlf/zlf)