Efektifkah Lumbung Pangan di Bekas Lahan Gambut?

Erwin Dariyanto - detikFinance
Kamis, 10 Des 2020 13:52 WIB
Mengintip persiapan proyek lumbung pangan di Kalteng Oktober
Proyek Food Estate di Kalimantan Tengah (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
Jakarta -

Pesawat Kepresidenan yang ditumpangi Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada Kamis pagi 8 Oktober 2020 pukul 09.10 WIB. Tak menunggu lama, begitu mendarat rombongan Presiden Jokowi kemudian beralih ke Helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara.

Ada tiga Helikopter Super Puma disiapkan untuk mengantar Presiden Jokowi dan rombongan pagi itu ke Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di sini tepatnya di area bekas lahan proyek lahan gambut (PLG) 1 juta hektar, di Jalan Katingan 3 Blok B Rey 20, Presiden mulai mencanangkan program Food Estate atau lumbung pangan.

Dalam pidato sidang tahunan MPR dan DPR, Jumat 14 Agustus 2020 lalu, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Food Estate dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional. Penguatan produksi pangan tak hanya di bagian hulu tetapi juga bergerak di hilir produk pangan industri. Nantinya program pertanian di kawasan Food Estate tak lagi dikerjakan dengan cara manual, namun sudah memanfaatkan teknologi modern.

"Di sini (area food estate) misalnya pemupukan kita memakai drone, untuk membajak sawah memakai traktor apung. Saya tanya tadi satu hari bisa berapa hektare? Operator mengatakan bisa 2 hektar. Inilah kecepatan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2020)," kata Jokowi dalam keterangan tertulisnya, Jumat 9 Oktober 2020.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy mengatakan penanaman perdana bagian dari proyek Food Estate sudah mulai dilakukan pada pekan kedua September lalu, di dua lokasi, yakni Pulang Pisau dan Kapuas. Di Pulang Pisau ada kurang lebih 1900 hektare, sementara di Kapuas 1.100 hektare.

Sarwo menegaskan bahwa tidak ada pembukaan lahan baru untuk proyek Food Estate ini. Penanaman perdana proyek ini dilakukan di lahan bekas PLG yang memang sudah dimanfaatkan oleh petani untuk menanam padi sebelumnya. Sebab, menurut dia, tujuan dari program Food Estate ini memang untuk meningkatkan produksi pertanian. "Yang biasanya mereka tanam sekali kita jadikan dua kali, yang dua kali kita jadikan tiga kali sehingga tambahan produksi mereka meningkat," kata dia.

Sementara untuk jenis padi yang ditanam dipilih yang sesuai dengan karakteristik lahan di area eks-PLG. Misalnya, varietas Impari 32, Impari 42, dan hibrida cukup adaptif dan berproduksi tinggi di lahan rawa. Namun ada juga jenis padi lain seperti IR 64 dan Ciherang. Kementerian Pertanian tidak menentukan jenis padi yang boleh ditanam petani di area Food Estate. "Tapi kami mengarahkan padi unggul bermutu, ada padi Impari 32, Impari 33," kata Sarwo.

Selain jenis padi yang ditanam di area Food Estate juga akan dilakukan perbaikan manajemen lahan, air, budidaya, panen dan pasca panen. Sarwo yakin bila semua ini berjalan dengan baik, bakal ada peningkatan produksi pangan minimal 35 persen yang didapat dari peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas tanaman.

Selanjutnya soal provitasi petani di Kalimantan Tengah

Selanjutnya
Halaman
1 2 3