Rumah Walet Jadi Ladang Bisnis yang Digandrungi Warga Aruk

Abu Ubaidillah - detikFinance
Senin, 14 Des 2020 11:32 WIB
Bisnis rumah walet
Foto: Abu Ubaidillah/detikcom
Sambas -

Di sepanjang jalan menyusuri PLBN Aruk yang terletak di Kecamatan Sajingan Besar dari Kecamatan Galing, Anda akan disuguhi pemandangan kebun karet dan sawit yang tertata rapi. Memang itulah sumber mata pencaharian utama masyarakat di Galing dan Sajingan Besar yang langsung berbatasan dengan wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia ini.

Namun dalam beberapa kesempatan, Anda juga akan melihat pemandangan berbeda berupa bangunan setinggi 7-9 meter yang dikerubungi burung walet. Rupanya itu adalah rumah yang disediakan untuk walet membuat sarang.

Salah satu pemilik, Agus Supriadi (28) mengaku rumah walet menjadi salah satu jenis investasi yang digandrungi oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

"Itu sama juga kaya investasi-investasi emas, bank, bangunan, cuma kan dulu harganya (sarang walet) agak tinggi jadi lebih ke (investasi) walet, istilahnya orang tua lah," ungkapnya kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Apen, sapaan akrabnya mengaku rumah walet yang ia miliki sudah lama didirikan sejak tahun 2008 oleh orang tuanya. Kala itu, jumlah orang yang berinvestasi rumah walet hanya 2-3, namun kini sudah ada belasan orang yang menjajaki bisnis tersebut.

"Dari 2008, udah lama waktu itu masih belum istilahnya daerah sini masih dikit, masih 2-3 orang. (Sekarang) Di galing sini lah sudah belasan digit, satu dua yang berdempet pun ada," ceritanya.

Ia mengatakan dalam satu rumah walet diperkirakan bisa menampung 200-300 ekor. Bahkan ia pernah melihat seseorang yang punya rumah walet bisa menampung hingga 10.000 ekor.

Bisnis rumah waletBisnis rumah walet Foto: Abu Ubaidillah/detikcom



Dalam setahun ia mengaku bisa panen sarang walet hingga 3 kali atau bisa panen selama 4 bulan sekali. Setiap panen bisa menghasilkan 120-130 sarang walet atau setara 1-2 kg yang bila dijual ke tengkulak sekitar tempat tinggalnya sekitar Rp 10-11 juta.

Walet biasa membangun sarangnya di atap atau dinding samping. Untuk memanennya Apen menyayat sarang walet menggunakan pisau. Setelah dikumpulkan, hasilnya langsung dijual ke tengkulak setempat.

Selama pandemi, ia mengaku tak mengalami penurunan pendapatan. Ditambah dengan nyambi sebagai Agen BRILink, Agus mengaku bersyukur mendapat tambahan pemasukan bersih per bulan Rp 5-6 juta.

"Syukurlah ada BRILink, banyak juga transaksi, yang banyak tarik tunai, transfer, istilahnya bayar iuran PLN karena kita termasuk boleh dikatakan agak aktif," kata Agus.

Agus menjadi salah satu dari 16 Agen BRILink yang tersebar di Kecamatan Galing dan Kecamatan Sajingan Besar di bawah naungan BRI Unit Galing. Di ulang tahun yang ke-125, BRI dengan tema BRILian hadir di perbatasan untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan.

Di masa yang serba sulit ini BRI juga berperan menyelamatkan UMKM-UMKM terdampak pandemi, mulai dari memberikan restrukturisasi kredit, subsidi bunga, hingga menyalurkan bantuan dari Pemerintah seperti BPUM dan BSU.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di
tapalbatas.detik.com.

(prf/hns)