Kapan SWF Indonesia Terbentuk? Luhut: Januari Pertengahan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 18 Des 2020 14:25 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: KEMENKO MARVES
Jakarta -

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) alias Lembaga Pengelola Investasi (LPI) akan segera terbentuk. Dia mengatakan pembentukan SWF akan selesai pertengahan Januari 2021.

"Kita harap organisasi ini akan jadi, semua sama manusianya juga ya bulan Januari pertengahan," ungkap Luhut di sela acara Indonesia-China Investment Forum di Sumatera Utara, Jumat (18/12/2020).

Dia mengatakan Senin kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) soal SWF. Dengan begitu, menurutnya secara organisasi SWF sudah mulai terbentuk.

Kini pemerintah sedang melakukan pencarian untuk sumber daya manusia yang akan menjadi pengelola SWF. Luhut menyebutnya sebagai awak. Kriteria pengelola SWF merupakan orang dari kalangan independen dan harus pandai melakukan pemasaran.

"Kemarin Senin presiden tanda tangan juga RPP-nya. Jadi semua SWF itu organisasi sudah jadi, tinggal kita nyari manusia yang jadi awaknya. Kita mesti cari dia orang independen, yang orang market," ujar Luhut.

"Sekarang headhunter dibuat kemarin, untuk mencari itu," terangnya.

Luhut juga mengatakan negara yang berkomitmen untuk investasi lewat SWF kini bertambah satu, yaitu Kanada. Dia mengungkapkan Kanada sudah berkomitmen untuk melakukan investasi sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,2 triliun (kurs Rp 14.100) ke SWF Indonesia.

"Sovereign Wealth Fund kita kemarin nambah lagi dapat US$ 2 miliar dari Kanada, mereka kasih komitmen," kata Luhut.

Sebelumnya, sudah ada Amerika Serikat (AS) lewat lembaga International Development Finance Corporation (IDFC) yang berminat menyuntikkan modal dengan total investasi mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,2 triliun.

Sementara itu, Jepang melalui Japan Bank of International Cooperation (JBIC) berminat untuk memberikan investasi sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 56,4 triliun.

(ara/ara)