Ekspor Indonesia-Timor Leste Saat Pandemi Wajib Ganti Sopir, Kenapa?

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 18 Des 2020 16:30 WIB
Aktivitas ekspor di PLBN Motamasin
Foto: Inkana Putri/detikcom
Malaka -

Ekspor menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi. Namun di tengah pandemi, banyak negara yang menghentikan aktivitas ekspor dan impornya. Alhasil, pertumbuhan ekonomi pun menjadi terhambat.

Di tengah pandemi saat ini, ekspor Indonesia ke Timor Leste masih tetap dibuka. Mengingat sebagian besar masyarakat Timor Leste masih bergantung terhadap Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Karena mereka masih tergantung sekali sama kita. Kalau kita tutup ekspor satu hari saja, mereka pasti sudah berteriak. Indonesia untuk ekspor ke Timor Leste tidak pernah tutup, hanya menyesuaikan saja. Bahkan, kalau kita bisa buka setiap hari bisa kita buka," kata Anggota Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Roni kepada detikFinance baru-baru ini.

Meskipun tetap buka, ekspor Indonesia ke Timor Leste juga menerapkan beberapa kebijakan, salah satunya pergantian sopir yang mengirimkan barang. Jika biasanya para sopir truk diperbolehkan membawa barang antarnegara, kali ini mereka harus turun bergantian di perbatasan.

Adapun pergantian sopir ini merupakan kebijakan dari Timor Leste. Sebelum beranjak pergi dari Indonesia ke Timor Leste, truk-truk eksportir harus dicek terlebih dahulu dan disemprot cairan disinfektan. Hal ini merupakan salah satu pencegahan terhadap virus Corona

"Ini pun sopirnya eksportir ini tidak boleh tidak boleh langsung ke sana. Jadi, ada pergantian sopir dan sopir sana yang bawa kendaraan dari kita ke Timor Leste. Jadi begitu sampai tengah (perbatasan), supir kita pulang, mereka bawa supir mereka sendiri untuk antar barang ke sana," jelas Danki Satgas Pamtas RI-RDTL Pos Lintas Batas Negara (PLBN), Jona Fajar Timor.

Uniknya di PLBN Motamasin, batas antara Indonesia dengan Timor Leste hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan dengan warna yang berbeda. Adapun warna merah ditujukan untuk Indonesia dan warna kuning milik Timor Leste. Jarak antara tembok merah ke tembok kuning pun bahkan hanya berkisar 10 langkah saja.

Aktivitas ekspor di PLBN MotamasinAktivitas ekspor di PLBN Motamasin Foto: Inkana Putri/detikcom

"Di tengah itu ada perbatasan, yang (tembok) merah punya kita dan yang (tembok) kuning punya Timor Leste. Nah, di situ ada pergantian supir. Nanti kalau pas balik, seperti itu lagi. Karena itu kebijakan dari mereka (Timor Leste) selama pandemi seperti itu. Kita mengikuti aturan negara masing-masing," paparnya.

Selain pergantian sopir, truk-truk pengantar barang juga akan disemprot cairan desinfektan terlebih dahulu. Tak seperti biasanya, Jona menyampaikan selama pandemi ekspor Indonesia-Timor Leste juga hanya berlaku satu hari saja, yakni pada Rabu.

"Kalau kita keluar (ekspor) dari Indonesia ke Timor Leste itu hari Rabu, dan nanti kendaraan ini akan kembali lagi hari Jumat," paparnya.

Meskipun ekspor Indonesia-Timor Leste tetap berjalan, namun semakin ketatnya kebijakan ekspor selama pandemi juga cukup berdampak terhadap jumlah barang-barang yang diekspor. Sebelum pandemi, jumlah ekspor Indonesia-Timor Leste bisa mencapai 10 truk per harinya, sedangkan saat ini hanya berkisar 20-30 truk setiap Rabu.

Ketatnya kebijakan ekspor ini juga memberikan dampak terhadap pelaku usaha di sekitar PLBN Motamasin. Seperti halnya yang dirasakan salah satu usaha kios sembako milik Decky Kenenbudi (55).

Ia menyebut kebijakan ekspor dari Timor Leste berisiko besar karena seluruh barang ekspor bukan dibawa oleh driver asal Indonesia. Hal inilah yang akhirnya membuat Decky memilih berjualan di Indonesia saja.

Aktivitas ekspor di PLBN MotamasinAktivitas ekspor di PLBN Motamasin Foto: Inkana Putri/detikcom

"Sekarang malah lucu lagi, sekarang contohnya saya bawa mobil, supirnya hanya sampai batas saja. Nah, nanti orang lain yang dari sebelah bawa saya punya mobil. Itu risikonya lebih besar. Sekarang kami dagang ini lokal saja," katanya.

Senada dengan Decky, Anonsiatus Marianus Riwu (23) merasakan hal serupa. Pemilik usaha pertanian ini mengaku kesulitan untuk melakukan ekspor ke Timor Leste karena ketatnya kebijakan mereka.

"Kemarin sebelum COVID-19 kalau batasnya lancar sebenarnya bisa untuk ekspor. Namun, selama panen kita pendekatan sama mereka izinnya agak susah. Jadi, untuk saat ini belum sempat karena kita komunikasikan sama orang bea cukai dan imigrasi izinnya agak susah karena COVID-19," katanya.

Untuk mengatasi hal ini, Anonsiatus memutuskan untuk mengajukan KUR Super Mikro ke BRI Unit Kobalima sebesar Rp 10 juta. Bantuan modal tersebut ia gunakan untuk modal pengadaan air untuk menyiram lahan pertaniannya. Tanpa bantuan BRI mungkin kini usahanya bisa gagal panen.

"Karena pas pandemi, ada kakak yang berhenti kerja, nganggur dari pekerjaannya. Jadi, kita putuskan buat bikin kebun ini," katanya

"Kita terbantu sekali dari BRI kemarin karena pas kita lagi bingung butuh dana. Kita pas butuh dana waktu itu kita dibantu teman-teman BRI, hari ini survei dan sorenya cair. Seandainya waktu itu BRI memperlambat pencairan, itu kemungkinan bisa batal panen," imbuhnya.

Pandemi memang memberi banyak dampak bagi pelaku usaha, termasuk UMKM di Motamasin. Sebagai unit bank yang terdekat dengan PLBN Motamasin, Bank BRI Unit Kobalima hadir membantu para pelaku UMKM mulai dari KUR, subsidi bunga, restrukturisasi, hingga penyaluran bantuan sosial.

Di ulang tahun yang ke-125, BRI dengan tema BRILian hadir di perbatasan untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan. Berbagai cara dilakukan salah satunya dengan menghadirkan Agen BRILink yang bisa ditemui di sana untuk melakukan transaksi perbankan dengan mudah.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.



Simak Video "PLBN Motamasin Gairahkan Ekonomi Warga Malaka NTT"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)

Tag Terpopuler