Jepang Cetak Rekor Siapkan Anggaran Militer Rp 728 T, Buat Apa?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 21 Des 2020 21:15 WIB
Japan Ground Self-Defense Force soldiers carry aid materials from a U.S. military Osprey aircraft (behind them) after a series of earthquakes, at Hakusui sports park in Minamiaso town, Kumamoto prefecture, southern Japan, in this photo taken by Kyodo April 18, 2016. Mandatory credit REUTERS/Kyodo  ATTENTION EDITORS - FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. MANDATORY CREDIT. JAPAN OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN JAPAN.
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Kyodo
Jakarta -

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga kembali menyetujui kenaikan belanja militer Negeri Sakura itu untuk kesembilan kalinya secara berturut-turut. Dengan begitu, Kementerian Pertahanan akan mencatatkan rekor dengan mendapat anggaran hingga US$ 51,7 miliar atau setara Rp 728,97 triliun (kurs Rp 14.100/US$) mulai April 2021 mendatang. Jumlah itu naik 1,1% dari total anggaran yang diterima tahun lalu.

Lalu, anggaran sebesar itu akan dipakai untuk apa saja?

Mengutip Reuters, Senin (21/12/2020), anggaran itu rencananya akan dipakai untuk mendanai pengembangan pesawat tempur (advanced stealth fighter) dan rudal anti-kapal jarak jauh (longer-range anti-ship missile) untuk melawan kekuatan militer China yang tengah tumbuh pesat.

China sendiri berencana untuk meningkatkan pengeluaran militernya 6,6% tahun ini, peningkatan terkecil dalam tiga dekade terakhir.

Selain itu, anggaran itu akan dipakai Jepang untuk melanjutkan ekspansi militer kontroversial yang telah dilakukan oleh pendahulu Suga, Shinzo Abe. Ekspansi militer yang dimaksud adalah mulai dari memberi pasukan Jepang pesawat, rudal, hingga kapal induk baru dengan jangkauan dan potensi yang lebih besar demi mampu melawan musuh potensial dari negara tetangga seperti China.

Tak hanya membeli rudal jarak jauh, Jepang juga mempertimbangkan untuk mempersenjatai dan melatih militernya agar mampu menyerang kekuatan militer negara tetangga seperti China, Korea Utara, dan negara Asia lainnya, bila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Secara rinci, anggaran tersebut terbagi-bagi sebagai berikut. Untuk mengembangkan sebuah jet tempur, diperkirakan menelan biaya sekitar US$ 40 miliar dan siap pada tahun 2030-an. Proyek pengembangan jet tempur itu akan dipimpin oleh Mitsubishi Heavy Industries Ltd dengan bantuan dari Lockheed Martin Corp.

Lalu, Jepang akan menghabiskan US$ 323 juta untuk memulai pengembangan rudal anti-kapal jarak jauh untuk mempertahankan rantai pulau Okinawa di barat daya.

Sebanyak US$ 628 juta akan dipakai untuk membeli enam pesawat tempur Lockheed F-35, termasuk dua varian short-takeoff and vertical-landing (STOVL) B yang akan beroperasi dari kapal induk yang dikonversi.

Pasukan militer Jepang juga akan mendapatkan US$ 912 juta untuk membangun dua kapal perang yang dapat beroperasi dengan lebih sedikit pelaut daripada kapal perusak konvensional.

Jepang juga ingin membeli dua kapal perang baru untuk membawa radar pertahanan udara dan rudal balistik Aegis baru yang kuat yang memiliki jangkauan tiga kali lipat dari model lama. Namun, pemerintah Jepang belum memperkirakan berapa biaya yang dibutuhkan untuk melancarkan rencana tersebut, yang mengganti proyek yang dibatalkan pada bulan Juni lalu untuk membangun dua stasiun darat Aegis Ashore.

(eds/eds)