Bereskan Macet di Puncak Butuh Ganjil-Genap?

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 29 Des 2020 14:58 WIB
Sistem satu arah (one way) di kawasan Puncak selesai dilakukan. Lalu lintas kembali menjadi dua arah. Namun, kepadatan kendaraan terlihat mengular panjang.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Penerapan aturan ganjil genap di jalur Puncak, Bogor kembali mencuat. Padahal, sebelumnya Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) pernah memastikan tidak bakal menerapkan skenario ini di kawasan tersebut.

Namun, pada akhirnya skenario ini dipertimbangkan kembali sebagai bagian dari rencana penanganan jangka panjang masalah kemacetan di kawasan Puncak, Bogor. Menurut Kepala BPTJ Polana B Pramesti, skenario ganjil genap ini diyakini bisa mengurangi volume kendaraan yang masuk ke kawasan Puncak cukup signifikan.

"Skenario ganjil genap yang akan gunakan di jalur puncak, berdasarkan simulasi atau analisis volume berkurang sebesar 13%," ujar Polana dalam webinar, Selasa (29/12/2020).

Dari tabel yang dipampangkan Polana dalam webinar itu terlihat bahwa sistem ganjil genap bisa mengurangi volume kendaraan dari Jakarta ke Puncak rata-rata 4.945 kendaraan per jam bisa berkurang jadi hanya 4.316 kendaraan per jam. Demikian sebaliknya, dari Puncak ke Jakarta rata-rata 4.319 kendaraan per jam menjadi hanya 3.763 kendaraan per jam.

Namun, pengurangan volume kendaraan mengandalkan skenario ganjil genap ini baru efektif bila ditunjang fasilitas lainnya yaitu Park&Ride.

"Namun tentunya perlu fasilitas pendukung berupa Park&Ride (ruang parkir) yang akan digunakan untuk mengendapkan kendaraannya dan beralih ke angkutan umum atau kendaraan lain," sambungnya.

Setidaknya dibutuhkan jumlah kantong parkir sebagai kompensasi ganjil genap sekitar 556- 629 ruang parkir per jam (rata-rata 593). Nah, dari Park&Ride ini pengunjung bisa beralih ke angkutan umum yang disediakan demi mengurangi kendaraan masuk ke kawasan Puncak.

Dengan asumsi tingkat keterisian rata-rata mobil pribadi di jalur Puncak sebesar 3 orang, maka diperlukan sekitar 67-76 (rata-rata 72) keberangkatan bus berkapasitas 25 orang per jam saat penerapan ganjil genap.

(eds/eds)