Rapid Antigen Jadi Biang Kerok Penumpukan Penumpang di Bandara Juanda

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 16:30 WIB
Sejumlah penumpang menjalani rapid test antigen di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rapid test antigen ini menjadi syarat penumpang perjalanan jarak jauh.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kewajiban rapid antigen sebagai syarat bepergian ke luar kota disebut sempat menjadi penyebab penumpukan penumpang di bandara. Demikian menurut Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I Faik Fahmi, di mana salah satu bandaranya

yaitu Bandara International Juanda Surabaya disebut sempat mengalami penumpukan penumpang saat awal penerapan rapid antigen.

"Jadi memang waktu itu di sekitar tanggal 17-18 (Desember) sempat terjadi penumpukan di Surabaya," ungkap Faik dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Alasannya karena layanan pemeriksaan rapid antigen saat itu masih sangat terbatas bahkan di tempat lain rata-rata dipatok dengan harga yang cukup tinggi. Sedangkan, bandara-bandara AP I, kata Faik, mematok harga pemeriksaan rapid antigen lebih murah dari yang lainnya.

"Karena alternatif pemeriksaan kesehatan dengan basis rapid antigen waktu itu tersedia di bandara di tempat lain belum tersedia. Tersedia di tempat lain pun masih dengan harga yang sangat tinggi ya sekitar Rp 400 ribu ada yang Rp 500 ribu, di tempat kita hanya Rp 170 ribu," katanya.

Ditambah lagi, ada juga yang melakukan pemeriksaan rapid antigen di bandara yang bukan mau bepergian dengan pesawat. Sehingga semakin menambah kepadatan penumpang di bandara.

"Yang kita lihat adalah sebagian penumpang justru bukan orang yang mau naik pesawat. Jadi orang yang menggunakan moda transportasi lain malah datang ke bandara, karena memang mereka mengetahui bahwa kita siap (rapid antigen) dan kemudian juga dengan harga yang lebih terjangkau," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2