Ada AS dan China di Balik Kenaikan Harga Kedelai

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 09 Jan 2021 19:00 WIB
Penjual tempe di Pasar Kramat Jati mulai kembali berjualan usai perajin mogok kerja selama 3 hari. Laris manis, belum sampai matahari terbit pun, dagangan ludes terjual habis.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Harga kedelai yang melambung tinggi sempat membuat para pengrajin tahu tempe melakukan aksi unjuk rasa dengan mogok produksi pada awal tahun ini. Produk berbahan dasar kedelai seperti tahu dan tempe juga sempat menghilang dari pasaran.

Namun, setelah aksi tersebut Kementerian Perdagangan menyebut stok kedelai nasional masih mencukupi untuk kebutuhan industri tahu dan tempe nasional. Sesuai data Asosiasi Importir Kedelai (Akindo), para importir menyediakan stok kedelai di gudang importir sekitar 450 ribu ton.

Apa ya penyebab naiknya harga kedelai ini?

Country Director Consultant to U.S. Soybean Export Council Eddy Wiyono mengungkapkan kenaikan harga ini disebabkan oleh faktor global seperti supply and demand. Dia menjelaskan Amerika Serikat (AS), Brasil dan Argentina merupakan produsen kedelai terbesar di dunia dan menguasai pasar hingga 90%.

Namun hanya AS yang sedang panen kedelai dan punya cadangan untuk ekspor. Musim panas yang terlalu kering hingga bencana angin topan mengakibatkan produksi kedelai AS lebih rendah dari yang diprediksi. Kemudian persediaan kedelai Brasil dan Argentina menipis sehingga harus memenuhi kebutuhan domestik.

"Selain itu, harga komoditas kedelai di Bursa Berjangka Chicago juga naik.Begitu halnya biaya logistik atau angkutan kapalnya juga naik. Hal ini bisa dipahami karena selama pandemi, kapal-kapal China tidak bisa berangkat (pulang pergi) ke Amerika karena lockdown sehingga terjadi delay dan pasokan barang terbatas," kata Eddy dalam keterangannya, Sabtu (9/1/2021).

Dia mengungkapkan selain masalah ketersediaan barang, permintaan dari China terhadap kedelai AS juga naik tajam. Hal ini karena China sedang berusaha untuk memenuhi janji kepada Presiden Trump untuk membeli kedelai lebih banyak dari AS. Selain itu AS juga sedang membutuhkan banyak kedelai untuk mendukung program peningkatan populasi babi sebanyak 130 juta ekor.

Eddy mengungkapkan saat ini pasokan kedelai nasonal diprakirakan masih aman untuk memenuhi kebutuhan kedelai rata-rata 2,5 - 2,6 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 90% dipenuhi oleh kedelai impor dan 10% kedelai lokal. Konsumen tempe dan tahu terbesar di Tanah Air berada di Pulau Jawa 85% dan 15% tersebar di Pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.

"Rata-rata importir menyediakan stok 1-2 bulan, jadi aman hingga Februari 2021. Bagaimana setelah itu? Saya perkirakan masih terjaga karena tahun 2021 kondisinya lebih baik dari 2020. Tren data pengapalan kedelai di pelabuhan terus meningkat sejak September hingga Desember 2020 dari 730 ribu ton menjadi 760 ribu ton," jelas dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2