Harga Kedelai Melambung, Mendag: Ini Tertinggi Dalam 6 Tahun

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 11 Jan 2021 13:45 WIB
Pekerja tengah menyelesaikan proses pembuatan tahu di Jakarta. Harga kedelai lokal mulai mengalami kenaikan dari harga Rp 6.500 sekarang sudah mencapai Rp 7000.
Foto: Grandyos Zafna.
Jakarta -

Harga kedelai yang dibeli perajin dari para importir tengah mengalami lonjakan. Pada Maret-April 2020 lalu, harga kedelai masih di kisaran Rp 6.100-6.500 per kilogram (Kg) per Maret-April 2020 lalu. Kini, harganya naik menjadi sekitar Rp 9.300-9.800/Kg.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lufti mengungkapkan, angka itu menunjukkan harga kedelai mencetak rekor tertinggi sejak 6 tahun terakhir.

"Jadi bapak dan ibu, sekarang ini harga kedelai itu US$ 13 per rumpumnya, dan ini adalah harga tertinggi dalam 6 tahun terakhir," ungkap Lutfi dalam konferensi pers virtual, Senin (11/1/2021).

Ia mengatakan, penyebab utamanya ialah tingginya permintaan kedelai di pasar global di saat kapasitas produksi menurun. Negara-negara Amerika Latin yang merupakan salah satu produsen terbesar kedelai mengalami gangguan cuaca, ditambah lagi aksi mogok kerja di sektor distribusi dan logistik.

"Ada gangguan cuaca La Nina di Latin Amerika yang menyebabkan basah di Brazil dan Argentina, yang kedua diperparah dengan Argentina yang mengalami aksi mogok. Jadi kalau kemarin itu mogoknya di sektor distribusi, sekarang ini mogoknya di pelabuhan. Jadi yang satu berhenti yang satu mulai. Yang satu mulai, yang satu berhenti. Jadi ini menjadi gangguan tersendiri, sedangkan di Argentina itu dibawa pakai kapal melewati sungai dan keluar di Brasil untuk pengapalan," ujar dia.

Selain itu, tingginya permintaan dari China untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak babi dari kedelai tersebut.

"Pada tahun 2019-2020 yang lalu itu, China mengalami yang disebut dengan swine flu atau flu babi. Flu babi ini menyerang ternak bagi mereka di mana seluruh ternak babi yang ada di China ini dimusnahkan. Jadi hari ini mereka memulai ternak babi itu lagi dengan jumlah sekitar 470 juta yang tadinya makanannya tidak diatur, hari ini makanannya diatur," imbuh Lutfi.

"Karena makanannya diatur tiba-tiba karena babi ini yang besar ini hampir mengkaliduakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat dalam kurun waktu yang singkat. Jadi dari 15 juta biasanya permintaan disana naik menjadi 28 juta permintaan. Ini menyebabkan harga yang tinggi," sambung Lutfi.

Meski permintaan tinggi, ia memastikan pasokan kedelai di Indonesia aman untuk 3-4 bulan ke depan. Sayangnya, ketersediaan itu memang harus diiringi dengan kenaikan harga.

"Jadi bapak dan ibu Ini adalah suatu keniscayaan yang memang harus kita pahami karena Indonesia tidak mempunyai kacang kedelai yang cukup, karena 90% adalah impor. Kita harus bisa mengerti kenaikan harga tersebut," tutup Lutfi.

(eds/eds)