Ya Ampun! 20 Ribu Warteg di Jabodetabek Bakal Tutup

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 06:45 WIB
Di tengah pandemi COVID-19 ini, sebuah Warteg di Jalan Jati Waringin Raya, Jakarta, menebar kebaikan. Mereka memberikan makan gratis bagi warga yang berpuasa.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) telah menggerus pendapatan pelaku usaha, tak terkecuali pengusaha Warteg. Selama ini omzet mereka anjlok bisa sampai 90%.

"Sudah hampir 90% (omzet turun)," kata Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni kepada detikcom, Selasa (12/1/2021).

Banyak juga dari pengusaha Warteg tidak bisa mempertahankan bisnis hingga akhirnya gulung tikar. Mukroni mencatat ada sekitar 20.000 Warteg di Jabodetabek yang akan tutup operasional pada tahun ini karena tidak bisa memperpanjang sewa tempat.

"20.000 (Warteg) mau tutup di tahun ini karena tidak bisa memperpanjang kontrak sewa usaha, sekarang sudah 50%-nya. Mereka sudah hampir setahun dagangannya jauh dari harapan, sementara untuk memperpanjang kontrak mereka harus mengeluarkan modal investasi lagi," ucapnya.

Ditambah dalam beberapa waktu terakhir sejumlah komoditas pangan yang jadi menu Warteg mengalami kenaikan harga. Sehingga membuat beban yang dipikul pelaku usaha semakin bertambah berat.

"Sementara pelanggan sudah mulai pelit untuk makan di Warteg karena mengetatkan ikat pinggang. Maklum pendapatan mereka juga berkurang karena wabah COVID ini," ucapnya.

Bagaimana nasib pengusaha Warteg yang gulung tikar itu?

Mereka yang tidak bisa mempertahankan bisnisnya, kata Mukroni memilih untuk pulang ke kampung halaman masing-masing karena beban hidup di Jakarta dianggap terlalu berat. Di sana mereka mengadu nasib jadi petani, hingga membuka usaha kecil-kecilan.

"Mereka pulang kampung karena beban berat untuk tinggal di Jabodetabek. Sementara usaha di sini belum pasti karena masih ada pemberlakukan PSBB sampai kapan dan sewa kontrakan argonya tetap jalan, belum listrik dan biaya hidup lainnya," ucapnya.

"Mereka ada yang jadi kuli, sopir, petani, buka usaha kecil-kecilan di kampung karena tidak bayar sewa kontrakan," tambahnya.

Mukroni menjelaskan adanya pembatasan baru yang tidak pasti kapan akan berakhir bikin pengusaha Warteg cemas. Pasalnya, kebijakan itu otomatis membuat pendapatannya semakin terpukul.

Untuk itu, Mukroni meminta pemerintah pusat maupun daerah di wilayah Jabodetabek terus memberikan stimulus bagi pelaku usaha sehingga kelangsungan bisnis Warteg bisa lebih terjaga di masa pandemi COVID-19 ini. Bantuan juga harus terus diberikan kepada masyarakat bawah untuk meningkatkan daya beli.

"Kami harap pemerintah memberikan stimulus untuk usaha kecil baik segi permodalan, kebutuhan hidup dan fasilitas lainnya. Pemerintah juga harus konsen untuk pemulihan ekonomi pendapatan rakyat bawah, agar daya beli masyarakat naik sehingga uang yang beredar di masyarakat bawah bisa menggerakkan ekonominya, karena Warteg dikenal dengan logistik perut masyarakat bawah," ucapnya.

(zlf/zlf)