Facebook 'Ogah' Cabut Blokir Akun Trump

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 15:25 WIB
Blokir Trump
Foto: Blokir Trump (M Fakhri Aprizal/Tim Infografis)
Jakarta -

Akun Facebook Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih diblokir hingga saat ini. Chief Operations Officer (COO) Facebook Sheryl Sandberg mengatakan, perusahaan 'ogah' atau tak ada rencana untuk mencabut blokir tersebut.

Dilansir dari Reuters, Rabu (13/1/2021), Sandberg sendiri menyatakan dirinya senang dengan langkah perusahaannya membekukan akun Trump setelah aksi kerusuhan di Gedung Capitol, Washington DC pekan lalu.

Tak hanya memblokir akun Trump, perusahaan juga memblokir penggunaan kata-kata 'stop the steal' yang mengacu pada tuduhan Trump dan pendukungnya bahwa hasil pemilihan presiden (Pilpres) 2020 yang dimenangi Joe Biden merupakan bentuk kecurangan.

Apabila Trump ingin memperoleh akunnya kembali, ia bisa saja mengajukan banding kepada Dewan Pengawas perusahaan, tambahnya. Namun ternyata, Facebook menegaskan langkah itu juga tak bisa dilakukan oleh Trump.

"Ini menunjukkan presiden tidak bisa melangkahi kebijakan yang kami miliki," kata Sandberg.

Selain memblokir aktivitas Trump, Facebook juga sejak lama menyoroti unggahan-unggahan dari para politikus di media sosial raksasa tersebut. Bahkan, ada beberapa unggahan yang diberikan 'sensor' ringan oleh Facebook.

Sayangnya, kebijakan Facebook menyebabkan sahamnya turun 4% pada penutupan perdagangan Senin (11/1) lalu. Para investor khawatir dengan regulasi perusahaan di masa depan.

Tak hanya Facebook, saham Twitter juga anjlok 6% setelah membekukan akun Trump secara permanen. Lalu, saham Alphabet Inc juga turun 2%.

Sebelumnya, Facebook pernah dikritik karena gagal mengambil tindakan setelah unggahan-unggahan beberapa akun memicu kekerasan. Sandberg sendiri mengakui bahwa Facebook mungkin telah melewatkan beberapa unggahan yang memicu kekerasan itu, tetapi ia meyakini tindakan kekerasan sebelumnya sebagian besar dipicu dari unggahan di platform media sosial lainnya.

Ia mengatakan, perusahaan sedang mengawasi kemungkinan adanya unjuk rasa bersenjata yang direncanakan di Washington, DC dan di semua 50 ibu kota negara bagian AS menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari. FBI pun telah mengingatkan hal tersebut.

Selanjutnya, Facebook akan menerapkan kebijakan yang dikenakan pada Trump secara global. Hal itu dinyatakan Sandberg setelah diberi pertanyaan mengapa Facebook tidak mengambil tindakan serupa terhadap para pemimpin lain seperti Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan Presiden Rodrigo Duterte di Filipina, yang juga telah dituduh menghasut kekerasan melalui platform online.



Simak Video "Blokir Trump, Facebook: Bahkan Presiden Tak di Atas Kebijakan Kami"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)