RI Masih Impor Listrik 120 MW dari Malaysia

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 14 Jan 2021 07:45 WIB
Program bantuan token listrik gratis 2021 dilanjut. Masyarakat sudah dapat mengajukan klaim bulan Januari di www.pln.co.id.
Foto: Rifkianto Nugroho

Dalam catatan detikcom 2016 lalu, pemerintah Indonesia melalui PT PLN (Persero) dan Malaysia melalui perusahaan listrik negaranya Sesco melakukan kerjasama untuk saling memasok kebutuhan listrik. Kerjasama ini diwujudkan melalui tersambungnya interkoneksi jaringan listrik Kalimantan Barat-Serawak.

Interkoneksi listrik dua negara ini terjadi pada 20 Januari 2016 melalui Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV) sirkit 1 antara Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi (GITET) Bengkayang dan GITET Mambong (Sesco Malaysia) setelah melalui beberapa rangkaian pengujian.

Interkoneksi ini merujuk kepada perjanjian di dalam Power Exchange Agreement (PEA) di mana PLN Indonesia dan Sesco Malaysia sepakat untuk melakukan jual beli (ekspor-impor) tenaga listrik selama 25 tahun.

Untuk 5 tahun pertama, Indonesia akan membeli listrik dari Malaysia sebesar 50 MW saat Lewat Waktu Beban Puncak (LWBP) dan 230 MW saat Waktu Beban Puncak (WBP). Sedangkan untuk 5 tahun berikutnya, PLN memungkinkan untuk menjual listrik ke Malaysia.

Pada tahap awal interkoneksi, Sesco Malaysia akan menyalurkan daya listrik sebesar 10 MW dan secara bertahap akan dinaikkan menjadi 50 MW sampai periode akhir Maret 2016. Untuk selanjutnya, Malaysia akan menyuplai 50 MW saat LWBP dan 230 MW saat WBP.

Selain itu, di dalam perjanjian PEA ini, PLN membangun SUTET 275 kV, serta 2 sirkit sepanjang 82 km dari GITET Bengkayang ke perbatasan di daerah serikin sehingga total panjang SUTET adalah 127 km.

Saat itu, sistem Kalbar mengalami defisit listrik sebesar 30 MW, dengan daya mampu sebesar 240 MW.

"Dengan masuknya listrik Malaysia sebesar 50 MW ini akan menutupi defisit listrik di Kalbar," ujar Manajer Senior Publik Relation PLN Agung Murdifi dalam keterangan resminya, 21 Januari 2016.

Agung menambahkan, impor listrik dari Malaysia ini merupakan bagian usaha PLN Kalbar dalam rangka mengatasi pemadaman yang sudah lama terjadi di wilayah Kalbar khususnya di sistem khatulistiwa dalam 2 tahun terakhir.

Selain itu, PLN Kalbar juga tengah menunggu masuknya PLTU Kalbar 1 (2x50MW), PLTU Kalbar 2 (2x27,5MW) dan PLTU Kalbar 3 (2x55MW) yang kala itu dalam proses pembangunan.

Diharapkan, jika semua PLTU dengan kapasitas 265 MW telah beroperasi, tidak menutup kemungkinan Kalbar bisa ekspor listrik juga ke Serawak Malaysia melalui jaringan SUTET yang sama.

Halaman

(acd/fdl)