Broker Charles Schwab Setop Sumbangan untuk Politik AS

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 14 Jan 2021 10:35 WIB
House of Representatives (HOR) atau DPR AS mulai mempertimbangkan pemakzulan kedua Donald Trump. Ia secara resmi dituduh menghasut pemberontakan dan penyerbuan para pendukungnya di gedung parlemen, Capitol Hill, Rabu (6/1/2021) lalu.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Perusahaan jasa keuangan, Charles Schwab Corporation menghentikan komite aksi politik atau political action committee (PAC). Sebuah organisasi yang mengumpulkan dana sumbangan dari karyawan perusahaan kepada kandidat politik, partai politik, dan anggota parlemen AS.

Mengutip dari Reuters, Kamis (14/1/2021) perusahaan mengatakan rencana itu dilakukan mulai tahun ini. Setelah itu, Schwab Corp tidak lagi menerima sumbangan dari karyawan dan berhenti memberikan kontribusi ke dunia politik.

"Hari ini, Charles Schwab Corporation mengumumkan bahwa kami menghentikan PAC kami dan tidak akan lagi menerima kontribusi dari karyawan atau memberikan kontribusi keuangan kepada pembuat undang-undang," kata perusahaan, dikutip dari situs web Charles Schwab Corp.

Perusahaan juga menjelaskan tindakannya ini dilakukan demi kepentingan klien, karyawan, pemegang saham, dan kantor tempat kami beroperasi. Mengingat saat ini politik AS telah terpecah hingga akhirnya menimbulkan serangan-serangan politik.

Charles Schwab Corp mengungkap sisa dana yang ada, akan disumbangkan kepada organisasi yang sejak dulu rutin menerima sumbangan yakni The Boys & Girls Club of America dan Historically Black Colleges and Universities.

Meski tidak lagi menyumbang dalam bentuk uang, Schwab Corp yakin suara perusahaan masih didengar oleh pemerintah AS. Perusahaan berjanji akan memberikan pengaruh yang positif dan sehat untuk AS.

"Kami yakin suara kami akan tetap didengar di Washington. Kami masih dapat memiliki pengaruh yang berarti dan positif pada kebijakan publik yang sehat, dan kami akan melanjutkan upaya kami untuk mendidik pembuat kebijakan tentang kebutuhan dan tantangan investor," tulis Charles Schwab.

(fdl/fdl)