Siapapun Presidennya, Utang AS Diprediksi Terus Melonjak

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 09:40 WIB
President Donald Trump and Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden exchange points during the first presidential debate Tuesday, Sept. 29, 2020, at Case Western University and Cleveland Clinic, in Cleveland, Ohio. (AP Photo/Morry Gash, Pool)
Foto: AP/Morry Gash
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat kental dijuluki sebagai King of Debt alias Raja Utang selama masa jabatannya. Utang nasional melonjak US$ 7 triliun atau setara Rp 98.000 triliun (kurs Rp 14.000) selama dia menjabat.

Utang itu diperkirakan terus melonjak tinggi di bawah presiden terpilih, Joe Biden. Dia sendiri mengajukan paket fiskal US$ 2 triliun untuk memperbaiki dan membangun kembali ekonomi AS.

Hal itu akan jadi tambahan dari paket bantuan senilai US$ 900 miliar yang diluncurkan bulan lalu. Proposal yang terdiri dari cek stimulus US$ 2.000, hingga asuransi pengangguran bertujuan untuk menopang pemulihan dari pandemi COVID-19.

Kebijakan itu otomatis semakin menambah utang AS mungkin sebesar US$ 27 triliun, namun langkah itu dinilai bijaksana mengingat skala masalah dan biaya pinjaman sangat murah.

"Ini bukan waktunya untuk mengencangkan ikat pinggang. Perekonomian bukan waktunya dalam kondisi penghematan," kata Kepala Ekonom RSM, Joe Brusuelas dikutip dari CNN, Jumat (15/1/2021).

Pandemi COVID-19 telah membuat 965.000 orang AS mengajukan tunjangan pengangguran pertama kali minggu lalu, naik tajam dari 784.000 minggu sebelumnya. 140.000 orang AS telah kehilangan pekerjaan pada Desember, itu menjadi penurunan pertama sejak musim semi.

"Ini adalah waktunya untuk menekan akselerator fiskal untuk menggerakkan semangat dan mengembalikan perekonomian ke jalurnya," ucap Brusuelas.

Pada kondisi ini, pemerintah tidak akan mengenakan kenaikan pajak untuk mengimbangi biaya. Pengeluaran defisit akan dikejar begitu setelah paket berakhir.

(ara/ara)