Bagaimana Nasib Pariwisata dan Perjalanan Bisnis Usai Pandemi?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 09:59 WIB
Mother picking backpack from security counter while standing by daughters. Family is with luggage at airport terminal. They are going on vacation.
Ilustrasi/Foto: (iStock)
Jakarta -

Chief Executive Officer (CEO) Airbnb, Brian Chesky memperkirakan sektor perjalanan akan berubah permanen karena pandemi Corona (COVID-19). Chesky mengatakan minat pariwisata dan liburan ke tujuan yang populer secara global akan berkurang secara signifikan.

Dia juga memprediksi perjalanan bisnis juga ikut menurun. Menurut Chesky orang akan lebih memilih liburan untuk berkunjung ke rumah teman dan sanak saudara.

"Wisatawan tidak ingin ke tempat populer seperti Times Square. Apa yang mereka rindukan itu adalah melihat teman-teman dan keluarga mereka yang sudah lama tidak mereka temui," katanya dikutip dari Reuters, Jumat (15/1/2021).

Airbnb sejak dilanda pandemi COVID-19 bisnisnya turun hingga 80% pada awal tahun 2020. Namun, sejak lockdown dilonggarkan, Airbnb mendapatkan keuntungannya kembali, sebab wisatawan lebih memilih staycation dengan menyewa rumah dibandingkan ke hotel.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini memperoleh keuntungan dari meningkatnya minat untuk menyewa rumah yang jauh dari kota besar. Keuntungannya itu mendorong Airbnb go public pada Desember 2020.

Sahamnya berlipat ganda dalam debut pasar. Pekan ini, saham Airbnb naik sebanyak 10% ke rekor tertinggi seharga US$ 187,42 per saham pada hari Kamis.

Namun, jelang pelantikan Presiden terpilih AS Joe Biden, Airbnb membatalkan semua reservasi di area Washington D.C. untuk menghindari terjadinya dampak kerusuhan.

Airbnb membuat keputusan itu setelah berkonsultasi dengan pejabat lokal dan federal serta setelah sejumlah tuan rumah yang khawatir tentang adanya potensi kerusuhan saat pelantikan.

(ara/ara)