Jokowi Minta Xi Jinping Agar China Ikut Garap Kereta Cepat JKT-SBY

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 10:16 WIB
Jokowi - Xi Jinping KTT APEC
Foto: Dok Kemenpar
Jakarta -

China dan Indonesia telah bertemu untuk membahas kerja sama kedua negara. Ada banyak pembahasan kerja sama yang rencananya dijalin kedua negara.

Beberapa di antaranya adalah proyek kereta cepat dan pengembangan industrial park. Mengenai industrial park, Kedua negara diwakili oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Nantinya China dan Indonesia akan mengimplementasikan kerja sama Two Countries Twin Park yang sudah diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Fujian yang melibatkan Yuanhong Industrial Park dengan Kawasan Industri Bintan, Kawasan Industri Aviarna dan Kawasan Industri Batang.

Konsep pembangunan tersebut diharapkan bisa menjadi cara kerja sama selanjutnya untuk Indonesia dan China.

Nantinya China juga bisa melakukan investasi di Indonesia, khususnya bidang hilirisasi industri, mobil listrik dan beterai lithium. Luhut juga mengajak China untuk terlibat dalam proyek kereta cepat yang rencananya dari Jakarta-Bandung disambung ke Surabaya.

Luhut menyebutkan investasi China di Indonesia sudah memenuhi 4+1 Rule of Thumb yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, yakni ramah lingkungan, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja dengan menggunakan tenaga kerja lokal, menciptakan nilai tambah, dan model kerja sama business to business (B2B).

"Selain itu, proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung juga diharapkan dapat diperpanjang menjadi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung-Surabaya. Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan kepada Presiden Xi Jinping agar RRT dapat berpartisipasi dalam proyek tersebut," kata dia dalam keterangan resmi, (15/1/2020).

Untuk mematuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, investor China diminta turut mengembangkan SDM lokal, mulai dari memberikan pelatihan vokasi untuk 11 bidang, seperti terkait Internet of Things, Artificial Intelligence, Big Data, Electric Vehicle, dan manufaktur baterai.

China juga telah berkomitmen untuk mendirikan politeknik industri dan merencanakan untuk meningkatkan jumlah penerima beasiswa dari pelajar Indonesia, ditambah dengan pertukaran tenaga pengajar dan magang kerja.

Pemerintah Indonesia saat ini juga berharap dapat bekerja sama dengan China untuk melaksanakan program pengentasan kemiskinan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), Pendidikan, dan Industri di Indonesia. Program ini dilaksanakan sebagai bentuk penyerapan keberhasilan China sebelumnya dalam pengentasan kemiskinan.

"Kami harap kedua negara dapat bekerja untuk mendorong realisasi dari program ini," tutur Luhut.

Dia menambahkan dalam hal riset juga mengundang perguruan tinggi China melakukan kerjasama riset di bidang herbal. Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan area seluas 500 hektar di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara yang akan difungsikan sebagai Pusat Herbal dan Hortikultura.

Bukan tanpa alasan, wilayah ini dibangun karena Indonesia memiliki potensi tanaman obat herbal yang besar dan setiap tahunnya, 40 persen penduduk Indonesia mengandalkan obat herbal untuk menjaga kesehatannya. Di lokasi ini akan didirikan area demo pertanian, kantor, tempat tinggal, guest house, laboratorium, dan ladang pengumpulan plasma nutfah.

"Selain itu, di tengah pandemi ini, saya juga berharap agar kerja sama ekonomi kita tidak berhenti dan dapat terus ditingkatkan. Indonesia memiliki sumber daya yang kaya sehingga diharapkan Indonesia dapat memperluas pasar produknya di RRT, termasuk akses bagi produk sarang burung wallet, perikanan, buah tropis, dan batu bara," terang Luhut.

(kil/zlf)