Neraca Dagang China Cetak Rekor Gara-gara Pandemi, Kok Bisa?

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 10:49 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Ilustrasi/Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

China menutup tahun 2020 dengan surplus perdagangan mencapai US$ 78 miliar atau setara Rp 1.092 triliun (kurs Rp 14.000) di bulan Desember. Berdasarkan data Bea Cukai China, surplus keseluruhan China di 2020 mencapai rekor US$ 535 miliar atau Rp 7.490 triliun, naik 27% dari 2019 dan menjadi yang tertinggi sejak 2015.

"Pandemi telah memperdalam hubungan antara China dan seluruh dunia," kata Kepala Ekonom China untuk Macquarie Capital, Larry Hu dikutip dari CNN, Jumat (15/1/2021).

Kepala Ekonomi Asia di Oxford Economics, Louis Kuijs menilai China diuntungkan karena pandemi COVID-19 yang pertama kali muncul di kota Wuhan. China diuntungkan dari banyaknya permintaan alat pelindung diri (APD) hingga elektronik karena orang-orang di seluruh dunia bekerja dari rumah.

"Setelah pulih dari krisis COVID-19 sendiri, China terbuka untuk bisnis ketika pandemi sehingga memicu permintaan besar di Amerika Serikat (AS) dan negara lain untuk barang terkait COVID-19," kata Kuijs.

China juga dianggap unggul dalam perang dagang dengan AS. Surplus perdagangan China dengan AS naik menjadi US$ 317 miliar pada 2020, meningkat 7% dari tahun sebelumnya.

"Dilihat dari lonjakan impor AS dari China pada 2020, tampaknya adil untuk mengatakan bahwa perang dagang Trump dengan negara itu (China) gagal," kata Kuijs.

Kabar perdagangan yang baik datang beberapa hari sebelum China diperkirakan mengumumkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk akhir tahun 2020 yang kemungkinan menunjukkan hasil positif. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan PDB China meningkat 2,1% untuk seluruh tahun 2020.

"Karena (China) memainkan peran penting dalam banyak rantai pasokan dan tetap menjadi tempat yang secara fundamental sangat kompetitif untuk berproduksi," kata Kuijs.

Namun, masa depan China bukan berarti tanpa tantangan. Analis menunjukkan bahwa Presiden terpilih AS Joe Biden kemungkinan tidak akan membalikkan tekanan pada negara setelah dia menjabat minggu depan.

"Pemerintah Biden akan mengambil pendekatan yang berbeda, kurang agresif dan lebih mantap ke China. Tapi secara politis tidak mungkin bagi Biden untuk menghapus tarif barang-barang China dalam waktu dekat," ucap Kuijs.

(ara/ara)