Saran buat Facebook: Tunda Luncurkan Mata Uang Kripto

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 18 Jan 2021 22:57 WIB
Kantor Anti Kartel Jerman Batasi Kegiatan Facebook Mengumpulkan Data
Ilustrasi/Foto: DW (News)
Jakarta -

Kerusuhan di Capitol Hill, Washington AS pada awal Januari 2021 telah menggoyahkan perusahaan media sosial, apalagi terhadap Facebook yang sudah digunakan oleh banyak masyarakat di dunia ini. Buntut dari kerusuhan Capitol, Partai Demokrat mempertanyakan peran perusahaan media sosial lantaran adanya tagar yang tujuannya melengserkan Donald Trump.

Di sisi lain Partai Republik mengkritik perusahaan media besar lantaran menghilangkan akun Donald Trump.

Dengan kejadian-kejadian seperti itu, pengenalan stablecoin alias Diem dirasa belum tepat. Pasalnya, peluncuran uang digital ini hanya akan memperburuk situasi.

Mengutip Asiatimes, Senin (18/1/2021), Stablecoin adalah cryptocurrency yang dirancang untuk meminimalkan volatilitas harga koin yang terhadap beberapa aset relatif stabil. Menurut laporan, Facebook ingin merilis Stablecoin Diem pada awal tahun 2021

Namun, rencana tersebut dinilai akan mendapat hambatan, setidaknya ada tiga hambatan yang mengganjal Diem sukses di 2021, yaitu:

1. Regulasi

Risiko besar bagi perusahaan media sosial yang ingin meluncurkan produk mata uang digital seperti Diem adalah regulasi. Para regulator berusaha memahami platform dan memprediksi risiko serta tantangan yang mungkin ditimbulkan dari pengoperasiannya.

2. Data dan privasi

Pada Februari 2018, Facebook dinyatakan bersalah oleh pengadilan Jerman dan Belgia karena melanggar undang-undang tentang privasi. Keputusan ini diambil karena Facebook menyebabkan hilangnya data 30 juta akun pengguna.

3. Risiko politik

Produk teknologi baru sering kali yang mengenalkan sistem integrasi atau konektivitas para pengguna sehingga memungkinkan orang untuk mengembangkan jaringannya di luar lingkaran pertemanan, maupun keluarga. Peningkatan ini dianggap mengancam stabilitas politik.

Sebagai contoh, pemerintah India memblokir internet dan menutup WhatsApp yang merupakan milik Facebook untuk menekan perbedaan pendapat dan untuk membatasi kritik serta protes yang semakin meningkat.

(hek/hns)