4 Fakta RI Masih Butuh Vaksin Merah Putih Meski Sudah Ada Impor

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Selasa, 19 Jan 2021 08:42 WIB
Infografis Vaksin Merah Putih
Foto: detikcom
Jakarta -

Jutaan dosis vaksin sudah diimpor Indonesia demi melakukan program vaksinasi untuk mengakhiri pandemi. Mulai dari vaksin jadi hingga yang setengah jadi alias curah, paling banyak vaksin diimpor dari China.

Namun, di sisi lain pengembangan vaksin juga dilakukan di dalam negeri, meskipun baru bisa digunakan diperkirakan tahun depan. Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menjelaskan 4 fakta mengapa Indonesia masih butuh vaksin Merah Putih. Apa saja?

1. Daya Tahan Vaksin
Bambang mengatakan dua pertimbangan pemerintah tetap mendorong pengembangan vaksin meskipun sudah ada vaksin impor yang siap digunakan.

Pertimbangan pertama menurutnya, belum ada yang tahu seberapa lama daya tahan vaksin yang sudah ada. Menurutnya, kemungkinan besar vaksin impor yang sudah siap digunakan belum bisa menjaga daya tahan tubuh orang yang sudah divaksin selama seumur hidup.

"Kenapa kita tetap kembangkan vaksin Merah Putih meskipun sudah ada yang impor? Ada dua hal yang dipertimbangkan, yang pertama adalah belum ada yang tahu daya tahan tubuh akibat divaksin bisa berapa lama bertahan, apakah seumur hidup? Sepertinya tidak," kata Bambang saat rapat kerja bersama Komisi VII DPR, Senin (18/1/2021).

Yang jadi masalah apabila virus Corona nyatanya tidak hilang dan tetap ada, maka vaksinasi ulang perlu dilakukan. Maka dari itu ketersediaan vaksin di dalam negeri harus dilakukan agar tidak melakukan impor apabila program vaksinasi harus dilakukan lebih dari satu kali per orang.

"Nah kalau virus COVID-19 ini tidak hilang maka kita perlu ada booster dan re-vaksinasi. Makanya itu kita perlu kemandirian untuk vaksinasi, jadi nanti kalau ada yang daya tahan tubuhnya turun sehabis vaksin bisa gunakan vaksinasi Merah Putih, tak perlu impor," kata Bambang.

2. Mutasi Virus Corona
Pertimbangan kedua, virus Corona bisa saja terus bermutasi, maka dari itu tak mungkin hanya berpangku tangan pada satu jenis vaksin.

Pengembangan vaksin Merah Putih pun akan melihat perkembangan mutasi dari viru Corona itu sendiri.

"Kemudian pertimbangan kedua ada juga mutasi virus, sampai saat ini mutasi yang ada memang belum mengganggu khasiat vaksin yang sudah ada. Tetapi, kita kan nggak tahu mutasi di masa depan mengharuskan kita mesti ubah vaksinnya," papar Bambang.

3. Turki Juga Lakukan Hal Sama
Bukan cuma di Indonesia, menurut Bambang, Turki juga melakukan hal yang sama. Di sisi lain negara tersebut melakukan impor vaksin, namun pengembangan vaksin di dalam negeri juga dilakukan.

"Ini ada juga Turki yang seperti kita, kita juga sering berkomunikasi dengan mereka," ujar Bambang.

4. Jumlah Vaksin yang Diimpor
Indonesia sendiri sudah mengimpor sebanyak 3 juta dosis vaksin Sinovac dari China, kemudian 15 juta vaksin setengah jadi juga diimpor dari tempat yang sama.

Selain itu masih ada 54 juta vaksin lagi yang akan datang dari luar negeri. Vaksin itu didapatkan dari The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI), dan kemungkinan akan datang di sekitar bulan Februari atau Maret.

Kemudian, sebagai informasi untuk vaksin Merah Putih sendiri, Maret nanti bibit vaksin hasil penelitian Lembaga Eijkman akan diberikan ke Bio Farma. Selanjutnya ada serangkaian tes praklinis yang mesti dilakukan Bio Farma.

Kemudian, di sekitar kuartal III-IV uji klinis kepada manusia bisa dilakukan untuk mendapatkan izin darurat Emergency Use Authorization. Proses tersebut diperkirakan akan memakan waktu hingga tahun 2022, hingga akhirnya vaksin Merah Putih bisa digunakan.

(zlf/zlf)